Surah Ar-Rahman menurut pendapat Abdullah bin Mas'ud ra dan Muqatil termasuk kelompok surah Madaniyyah, namun menurut sebagian besar ulama, seperti al-Qurthubi dan Ibnu Katsir Ar-Rahman termasuk dalam kelompok Makkiyyah. Surah ini memiliki keunikan dengan pengulangan ayat yang paling banyak di antara surah-surah lain di Al-Qur'an.

Di dalam satu hadits disebutkan,
Rasulullah SAW keluar menemui para sahabat, lalu beliau membacakan kepada mereka Surah Ar-Rahman dari awal sampai akhir. Lalu mereka pun terdiam semuanya tanpa memberikan respon apa-apa. Lalu beliau bersabda, "Aku telah membacakan Surah Ar-Rahman ini kepada sejumlah jin pada malam pertemuanku dengan mereka. Ternyata mereka lebih baik responnya dari kalian. Waktu itu, setiap aku sampai pada ayat 'fa bi ayyi aalaa-i robbikumma tukadzdziban' maka para jin itu merespon dengan berkata, 'Tiada suatu apa pun dari nikmat-nikmatMu Ya Tuhan kami yang kami dustakan dan ingkari, segala puji hanya untukMu.' (HR at-Tirmidzi)

Surah Ar-Rahman ini dibuka dengan menyebutkan sifat Allah, yakni Ar-Rahman. Implisit bahwa segala yang akan diterangkan di dalam ayat-ayat selanjutnya adalah tidak lain berpangkal dari sifatNya, yakni Ar-Rahman, Dzat yang Maha Pemurah - kepada seluruh makhlukNya (1).

Kemudian, Allah SWT menjelaskan siapa diriNya, Dzat yang Maha Pemurah ini, sebagai berikut:

  1. Dialah Dzat yang telah menurunkan Al-Qur'an kepada manusia (2)

  2. Dialah Dzat yang telah menciptakan manusia (3)

  3. Tidak hanya menciptakan, Dia pula yang mengajarkan manusia berbagai pengetahuan (al-Bayan) secara turun temurun dari Adam as. Di dalam tafsir Thabari, disebutkan bahwa al-Bayan yang diajarkan Allah SWT kepada Adam as ini adalah kemampuan berbicara (berupa kefasihan berbicara, berpikir sistematis dan melakukan argumentasi).

    Di ayat lain, disebutkan (salah satu bentuk) pengajaran Allah SWT ini kepada Adam as sebagai berikut:
    Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (Al-Baqarah 2:31)

    Allah SWT memperkenalkan nama-nama benda, atau Toxonomy yang merupakan tahapan awal dalam mempelajari sesuatu.

    Di sini, secara implisit kita diminta untuk menggunakan akal dan pengetahuan yang telah diajarkanNya melalui Adam as ini untuk mengenali sifat DzatNya yang Maha Pemurah ini.

  4. Dialah Dzat yang mengatur peredaran alam semesta, termasuk matahari dan bulan yang berotasi mengikuti suatu aturan (hukum alam) tertentu.

    Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (5)

    Di sini, kembali Allah SWT menyentil kita untuk memperhatikan alam semestadan mendorong kita untuk mencari tahu bagaimana perhitungan yang ditetapkanNya atas pergerakan benda-benda langit ini.

  5. Dia pula Dzat yang menumbuhkan berbagai jenis tanamanan, yang semuanya itu tunduk kepada hukumNya (6).

    Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepadaNya. (6)

    Tunduknya seluruh makhluk di alam semesta ini digambarkan pada ayat lain:

    Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (Ali Imran 3:83)

    Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (Ar-Ra'd 13:15)

    Hal ini juga digambarkan pada proses penciptaan awal alam semesta berikut:

    Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit; dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa." Keduanya menjawab, "Kami datang dengan suka hati." (Fussilat 41:11)

  6. Dialah Dzat yang telah meninggikan langit dengan keseimbangan (mizan) tertentu (7). Di sini implist Allah menekankan bahwa alam semesta adalah suatu sistem yang diciptakanNya dengan tidak sembarangan, mengikuti hukum alam dan perhitungan tertentu yang akurat dan konsisten.

    Disisipkan pada ayat berikutnya, perintah agar manusia tidak merusak keseimbangan alam ini, memeliharanya sebagai salah satu tugas manusia sebagai khalifah Allah di bumi:

    Supaya kamu jangan melampaui batas tentang keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan benar dan janganlah kamu merusak keseimbangan itu. (8-9)

Pada ayat-ayat selanjutnya, Allah SWT menjelaskan dua tema pokok berikut:

  1. Tanda-tanda Kebesaran Kekuasaan Allah - yang diperlihatkan dalam berbagai fenomena alam dan tantangan, agar manusia untuk mentadabburinya.
  2. Tanda-tanda Nikmat Karunia Allah - sebagai nikmat dari Tuhan yang Maha Rahman - yang diperlihatkan dalam berbagai feature pada diri manusia, dunia dan alam seisinya agar manusia mensyukurinya.

Menarik di sini, memperhatikan struktur narasi ayat-ayat tersebut yang dipisahkan oleh ayat yang identik diulang sebanyak 31 kali:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat karunia (dan tanda kekuasaan) Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Hal ini tampak dalam rangkaian tema ayat-ayatnya yang berurutan sebagai berikut:

  1. Pertama, Allah berbicara mengenai keluasan ciptaanNya yang sangat beragam dan sempurna di alam semesta, yang mencakup berbagai feature ciptaanNya di bumi (10-13), diri manusia dan jin (14-16), dan matahari (17-18) serta lautan (19-23). Di banyak ayat lain, dijelaskan pula kesempurnaan ciptaan-ciptaan Allah ini, sebagai berikut:

    Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (Ar-Rahman 55:5)

    Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Al-An'am 6:96)

    Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al-Qamar 54:49)

    Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. (Ah-Hijr 15:19)

    Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya. (Al-Mu'minun 23:18)

    yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al-Furqan 25:2)

  2. Kemudian kita dikontraskan dengan keterbatasan seluruh alam ciptaan tersebut, dalam bentuk ketergantungan mereka kepada Sang Maha Pencipta dan keterbatasan mereka yang tidak dapat melampaui ketetapan Allah SWT (29-36).

  3. Setelah itu, kita dijelaskan mengenai akhir kesudahan dari semua ciptaan Allah, yang dimulai dari peristiwa Kiamat (37-39) dan balasan neraka bagi mereka yang berdosa (41-45) serta balasan surga bagi orang yang beriman dan beramal saleh (46-77).

    Menarik di sini kalau diperhatikan, perbandingan proporsi ayat mengenai neraka (hanya 5 ayat) dengan ayat mengenai surga (32 ayat). Proporsi ini implisit menggambarkan betapa nikmat, karunia Allah dan kasih sayang serta ampunan Allah SWT jauh lebih luas dan lebih mudah diraih daripada keadilanNya terhadap mereka yang mengingkari kebenaran dan risalahNya. Hal ini pun digambarkan dalam salah satu hadits qudsi berikut:

    Allah Ta’ala berfirman, "Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingatKu. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diriKu sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangiKu dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR bukhari No. 7405 dan Muslim No. 2675)

    Ar-Rahman

  4. Terakhir, narasi dikembalikan kepada Dzat yang Maha Menguasai dan Maha Menciptakan segala sesuatunya. Dialah Allah SWT yang Maha Besar menciptakan alam semesta dengan berbagai feature dan siklusnya dan yang Maha Pemurah menurunkan nikmat karuniaNya kepada seluruh makhluk ciptaanNya (78). Surah Ar-Rahman ini ditutup dengan closing bahwasanya rangkaian ayat-ayat sebelumnya di atas tidak lain menerangkan betapa agungnya Allah SWT sebagai Dzat yang Maha Rahman, Maha Pemurah yang kekuasaanNya tidak terbatas dan karuniaNya meliputi segala sesuatu di alam raya ini.


Catatan

Menarik kita perhatikan beberapa ayat berikut yang oleh beberapa kalangan
dikaitkan dengan berbagai fenomena alam.

Dua Lautan yang Bertemu tetapi Tidak Bercampur

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing. (19-20)

Di ayat lain, Al-Qur'an juga menyatakan hal yang sama:

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. (Al-Furqan 25:53)

Belakangan diketahui fenomena ini terjadi di dekat selat Gibraltar dimana terjadi pertemuan masa air laut Mediterania dengan laut Atlantik Utara bagian Timur. Kedua air ini tidak bercampur karena perbedaan salinitas (kadar garam) keduanya (sumber: Al Quran dan Oseanografi, oleh Prof. Safwan Hadi, Ph.D).

Tarikan Gravitasi Bumi

Hai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (33)

Menurut Dr. Quraish Shihab, pada ayat ini Allah menerangkan adanya tarikan gravitasi bumi yang kuat, dan besarnya upaya dan tenaga yang dibutuhkan untuk dapat menembusnya.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.