Surah Al Mu’minuun terdiri dari 118 ayat dan termasuk kelompok surah Makkiyyah.

Allah membuka surah ini dengan menerangkan profil orang beriman yang berhasil, sukses mendapatkan apa yang diharapkan (1). Kata Qad pada ayat 1 bermakna menegaskan dan memastikan bhw keberhasilan dan keberuntungan yang diperoleh oleh orang beriman adalah sesuatu yang pasti, nyata dan benar-benar aktual.

Kemudian Allah menjelaskan ciri-ciri orang beriman yang sukses sbb:

  1. Mereka yang melaksanakan sholat dg khusyu’, merendahkan diri dan rasa takut kpdNya (2)

  2. Mereka yang berpaling, tidak tertarik sama sekali, meninggalkan perbuatan yang tdk berguna (3)

  3. Mereka yang selalu berusaha menjaga kesucian akhlak, hati dan ucapannya (4). Sebagian mufasir berpendapat yang dimaksudkan di sini adalah mereka yang mengeluarkan zakat – walaupun sebenarnya kewajiban zakat baru diperintahkan di Madinah, jauh setelah ayat ini turun. Di ayat lain, dijelaskan dg redaksi yang hampir sama:

    Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwa, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya (Asy Syams 91:9-10)

    Sedangkan bagi mereka yang menolak membayar zakat disebutkan di ayat lain sbg salah satu ciri orang yang mempersekutukan Allah:

    …dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. (Fushshilat 41:6-7)

  4. Mereka yang menjaga kemaluannya dari hal yang haram (5), yakni:

    • Menyalurkan syahwatnya hanya kepada istri/suami atau budak mereka (6)

    • Tidak melakukan hal-hal lain yang dilarang terhadap kemaluan mereka (7)

  5. Mereka yang menunaikan amanah dan janjinya (8). Amanah di sini adalah amanah dari Allah (berupa kewajiban syariat, spt sholat dan nazar) dan amanah yang bersifat muamalah thd sesama manusia, sbgmn diterangkan di ayat lain sbb:

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (Al Anfaal 8:27)

  6. Mereka yang melaksanakan sholat dg tekun, rajin dan tepat waktu (9). Nabi SAW menegaskan di dalam hadits berikut:

    Aku bertanya kpd Rasulullah, “Ya Rasulullah, amal apakah yang paling disukai oleh Allah SWT?” Beliau menjawab, “Sholat tepat pada waktunya.” Aku bertanya, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kpd kedua orangtua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah SWT.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Istiqamahlah kalian, dan kalian sekali-kali tdk akan bisa membatasinya. Ketahuilah sesungguhnya sebaik-baik amal kalian adalah sholat, dan tidak memelihara sholat melainkan seorang yang beriman (Mukmin) (HR Ahmad, Ibnu Majah, al Hakim dan al-Baihaqi)

Kemudian dijelaskan, bhw mereka yang beriman dan memiliki 6 ciri di atas adalah yang paling berhak (mewarisi) tinggal di dalam surga Firdaus (10-11). Surga Firdaus ini adalah tingkatan surga yang paling tinggi, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW berikut:

Apabila kalian memohon surga kpd Allah, maka mohonlah kpdNya al-Firdaus karena itulah surga yang tertinggi dan terbaik. Dari al-Firdaus lah hulu sungai2 surga dan di atasnya terdapat ‘Arsy Allah SWT yang Maha Pengasih (HR Bukhari dan Muslim)

Siklus Kehidupan Manusia

Allah kemudian menjelaskan siklus kehidupan manusia secara lahiriah (fisik) sbb:

  1. Manusia diciptakan dari saripati yang berasal dari tanah, yakni semua manusia adalah keturunan Adam as yang diciptakan dari tanah (12)

  2. Manusia memulai proses kelahirannya dengan bercampurnya sperma dan sel telur di dalam tempat yang kokoh (rahim) (13)

    Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. (As Sajdah 32:7-8)

  3. Air mani berubah menjadi segumpal darah beku merah (14)

  4. Segumpal darah beku menjadi segumpal daging seukuran satu kunyahan/suapan (14)

  5. Daging menjadi tulang yang mulai membentuk kepala, tangan dan kaki beserta saraf dan pembuluh darahnya (14)

  6. Ditumbuhkan daging yang membungkus tulang sbg penutup dan penguat (14)

  7. Ditiupkan ruh Allah kpd janin tsb, terus berkembang dan lahir shg dia menjadi manusia dg berbagai sifat dan karakternya (14)

  8. Manusia pasti akan meninggal sesuai batas waktunya (15). Dijelaskan di ayat lain:

    Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). (Al Mu’min 40:67)

  9. Manusia kemudian akan dibangkitkan pada hari kiamat dari tulang belulang tempat mereka dikuburkan (16). Di ayat lain dijelaskan juga:

    Allah berfirman, “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (Al A’raaf 7:25)

Catatan Mengenai Ajal

Allah menjelaskan mengenai ajal di ayat berikut:

Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu). (Al An’aam 6:2)

Menurut Ibnu Katsir, Qurthubi dan Thabari, ayat di atas menerangnya adanya dua jenis ajal:

  1. Ajal yang sdh ditentukan di awal penciptaan manusia, semacam expiry date pada saat ditiupkan ruh kpd janin
  2. Ajal yang ditentukan atas ketetapan Allah krn sebab tertentu (bisa krn doa, perbuatan baik dll)

Bisa berubahnya ajal atau umur seseorang dijelaskan dalam beberapa hadits berikut:

Ibuku berkata, “Ya Rasulullah, doakanlah pelayan kecilmu yang bernama Anas ini” Rasulullah pun mendoakannya dengan dengan doa, “Ya Allah, limpahkan harta untuknya dan perbanyaklah anak keturunannya, panjangkan usianya, dan ampuni dosanya” (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).

Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik. (HR Tirmidzi 2065)

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam bish-shawab