Hukum Membunuh Sesama Mukmin

Ayat 92-93 Allah menjelaskan mengenai hukum membunuh sesama org beriman (92). Allah menjelaskan bhw dosa membunuh itu adalah salah satu dosa besar. Disebutkan Allah murka dan bila tdk bertaubat maka hukumannya adalah kekal dalam neraka jahanam (93).

Dosa membunuh ini begitu besarnya shg keburukannya disamakan dg membunuh seluruh manusia, sbgmana dijelaskan di ayat berikut:

…barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya (Al Maaidah 5:32)

Sambungan dari membunuh dan berperang di ayat sebelumnya, Allah memerintahkan kita utk bersikap hati2, penyelidikan secara teliti terhadap musuh sebelum melakukan penyerangan (spt apakah dia muslim atau kafir, apakah dia org yg sudah menyerah atau akan menyerang), agar jangan sampai salah sasaran, dan malah membunuh sesama muslim tanpa disengaja (94).

Keutamaan Orang yang Berjihad

Selanjutnya Allah membandingkan pahala orang yang berangkat berjihad dg mereka yang diperbolehkan tdk ikut berjihad krn sebab lemah, sakit, perempuan (lihat juga kelompok 2 dan kelompok 3 pada bahasan ODOP 4:66-79 lalu). Dikatakan kedua kelompok ini sama2 mendapatkan pahala akan tetapi Allah melebihkan mereka yg berangkat jihad, yang berkorban harta dan jiwa terhadap mereka yg tdk berangkat krn sebab lemah, sakit, perempuan tadi dlm bentuk:

  • Dilebihkan balasan surga satu atau beberapa derajat (95, 96)

    Di dalam hadits disebutkan,

    Sesungguhnya di surga nanti ada 100 derajat yg dipersiapkan Allah utk orang2 yg mau berjihad dalam perang membela agama-Nya. Setiap 2 derajat di surga itu jaraknya sama dengan jarak antara langit dan bumi (HR Bukhari dan Muslim)

  • Pahala yang lebih besar (95)

  • Ampunan atas dosa kesalahan yg lalu (96)

  • Rahmat, keberkahan Allah, bertambahnya kebaikan, keutamaan, kehormatan dan ampunan yg khusus diberikan oleh Allah yg Maha Pengasih (96)

Perintah Hijrah

Suatu ketika banyak orang2 dari kaum muslimin yang masih berada dlm barisan kaum musyrikin. Hal itu membuat kekuatan kaum musyrikin tampak besar dlm pandangan Rasulullah. Beliau lalu mengambil anak panah dan mengarahkannya ke arah kaum musyrikin. Namun rupanya anak panah itu justru mengenai seorang muslim yang berada di tengah kaum musyrikin tsb, lalu orang muslim itu meninggal. Lalu turunlah ayat 97 ini. (HR Bukhari dari Ibnu Abbas)

Seorang muslim yang berada di tengah pasukan kaum Musyrikin inilah yang diterangkan sebagai orang yang meninggal dalam keadaan menganiaya diri sendiri pada ayat 97 berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab, "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata, "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (97)

Hijrah adalah perintah yang diwajibkan bagi setiap muslim di Mekkah utk berpindah meninggalkan Mekkah menuju Madihah, sekaligus dgn membawa keluarga mereka. Kenyataannya ada bbrp orang yg tidak mau ikut hijrah, menetap di Mekkah, walaupun sudah menerima Islam. Allah merendahkan mereka dg mencontohkan perkataan malaikat maut kpd mereka, “Bukankah bumi Allah itu luas, shg kamu bisa berhijrah di bumi itu?” (97).
Implisit Allah sebenarnya membantah ketakutan mereka akan ketidakpastian dlm berhijrah dg menegaskan: bhw bumi itu sangat luas, ada banyak kesempatan kehidupan yg lebih baik dan rezeki yang luas di balik bentangan bumi Allah sangat luas (97, 100)

Di ayat lain Allah menghinakan mereka yg tdk mau ikut berhijrah ini spt orang yg merangkak dg wajah tertelungkup sbg simbol mereka yg terhalangi penglihatan dan pendengarannya (wajah tertelungkup) dari menerima hidayah Allah:

Maka apakah orang yang merangkak dengan wajah tertelungkup itu yang lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus? (Al Mulk 67:22)

Di ayat lain, dijelaskan juga bhw tdk ada kewajiban melindungi orang yg menolak berangkat hijrah:

… Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah (Al Anfaal 8:72)

Perintah hijrah ini memiliki banyak kemiripannya dg perintah berperang krn sama2 membutuhkan kekuatan fisik dan mental. Sama dg perang, Allah pun menjelaskan mereka yg dibolehkan tdk ikut berhijrah, yakni:

  • Mereka yg tertindas shg akan mengancam jiwanya kalau memaksakan berhijrah
  • Anak2 yang ditinggal sendirian dan tdk tahu jalan (98)

Hanya berbeda dg perang, dimana Allah tetap memberi pahala kpd mereka yg tdk ikut krn alasan yg sah, maka di dlm hijrah hanya dijanjikan mudah2an Allah yg Maha Pemaaf dan Pengampun memaafkan mereka (99).

Ibnu ‘Arabi membagi hijrah menjadi 6 berdasarkan sebabnya:

  1. Hijrah dari negeri kafir menuju negeri Islam (ini spt hijrah di masa Nabi dari Mekkah ke Madinah)
  2. Hijrah dari negeri yg dipenuhi bid’ah
  3. Hijrah dari negeri yg di dalamnya didominasi hal2 yang haram, krn mencari hal yang halal merupakan kewajiban setiap muslim
  4. Hijrah utk menyelamatkan diri dari penganiayaan dan siksaan
  5. Hijrah utk menyelamatkan diri dari penyakit yg sedang mewabah
  6. Hijrah dari kemungkinan dirampasnya harta benda

Sebagian ulama berpendapat hukum hijrah tetap berlaku sampai saat ini selama kondisi yg mensyaratkannya terpenuhi.

Selain hijrah emigrasi di atas, ada juga hijrahnya orang yang masuk Islam, meninggalkan perkara2 yang diharamkan. Disebutkan di dlm hadits:

Yang dinamakan orang yg berhijrah adalah orang yg meninggalkan perkara-perkara yg dilarang/diharamkan Allah (HR Bukhari, Abu Dawud, an Nasa’i)

Masih terkait dg hijrah dan peperangan, di ayat 101 Allah menjelaskan keringanan men-qashar sholat di dalam peperangan atau hijrah. Lalu, di ayat 102-103, Allah menjelaskan mengenai tata cara sholat dlm peperangan (sholat khauf) dan anjuran memperbanyak dzikir di luar sholat selama dlm peperangan.

Sholat khauf ini dijelaskan juga di ayat lain:

Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (Al Baqarah 2:239)

Masih mengenai hijrah dan jihad (peperangan), di ayat lain diterangkan pula, bahwa hijrah dan jihad haruslah dilandasi oleh iman. Mereka yang berhijrah haruslah memiliki semangat berjihad, bersungguh-sungguh dan tabah menghadapi tantangan dan berbagai ketidakpastian dalam berhijrah.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah 2:218)

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (At-Taubah 11:20)

Adapun semangat hijrah ini dapat kita lihat di dalam seruan Nabi saw di hadapan kaum Muslim ketika mereka baru memasuki kota Madinah dari perjalanan hijrah Mekkah sebagai berikut:

Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam (Islam), berikan makan, sambunglah silaturrahim, dan shalatlah di waktu malam ketika orang-orang sedang tidur; niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat. (HR. at-Tirmidzi, ad-Darimi, Ibnu Majah dll)

Nabi SAW menerangkan, bahwa semangat dan visi dari hijrah ini adalah:

  1. Menyebarkan Islam dan perdamaian. Menjadi contoh akhlak seorang muslim yang menyebarkan kedamaian (salam)
  2. Meningkatkan kepedulian dengan sesama. Saling tolong menolong antara pendatang (guest) dan mereka yang didatangi (host)
  3. Meningkatkan silaturrahim. Menambah teman, saudara seperjuangan dan menambah kedewasaan dalam bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
  4. Meningkatkan ibadah. Mendekatkan kita dalam berdoa dan beribadah, menambahkan keyakinan kita kepada Allah, menjadikan Allah SWT sebagai gantungan harapan kita yang sebenar-benarnya - dalam menghadapi lingkungan yang baru dan masalah yang unpredictable.

Maha Benar Allah dg segala firmanNya.

Wallahu a’lam