Penyebutan dalam Al-Qur’an
Ashab al-Rass (أَصْحَابُ الرَّسِّ) disebut dua kali dalam Al-Qur’an:
1. Surah Al-Furqan [25]: 38
وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَٰلِكَ كَثِيرًا
“Dan (Kami binasakan) kaum ’Ad dan Tsamud dan penduduk Rass, serta banyak generasi di antara kaum-kaum tersebut.”
2. Surah Qaf [50]: 12
كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَأَصْحَابُ الرَّسِّ وَثَمُودُ
“Sebelum mereka, kaum Nuh, penduduk Rass, dan Tsamud telah mendustakan (rasul-rasul).”
Makna Linguistik “Al-Rass”
Akar Kata
Al-Rass (الرَّسّ) berasal dari akar kata ر-س-س yang memiliki beberapa makna dalam bahasa Arab:
Al-Khalil bin Ahmad dalam Kitab al-’Ain dan Ibn Manzhur dalam Lisan al-’Arab mencatat:
| Makna | Penjelasan |
|---|---|
| Sumur tua | Sumur yang digali namun tidak dilapisi batu (غير مطوية) |
| Bekas sumur | Sumur yang telah tertimbun atau ditinggalkan |
| Tambang | Lubang tempat menambang logam |
| Permulaan sesuatu | Seperti dalam ungkapan rass al-hummā (awal demam) |
| Mengubur/memendam | Seperti rassu al-mayyit (mengubur mayat) |
Al-Zajjaj menjelaskan:
الرَّسُّ في اللغة: البئر التي لم تُطْوَ، والجمع رِساس
“Al-Rass dalam bahasa adalah sumur yang tidak dilapisi batu, jamaknya risas.”
Mengapa Disebut “Ashab al-Rass”?
Para mufassir memberikan beberapa kemungkinan:
- Mereka tinggal di sekitar sumur yang menjadi sumber kehidupan mereka
- Mereka melemparkan (رسّوا) nabi mereka ke dalam sumur
- Mereka mengubur (رسّوا) kebenaran dan menutupinya
- Nama tempat atau lembah tempat mereka tinggal
Misteri Identitas Ashab al-Rass
Keunikan dalam Literatur Tafsir
Ashab al-Rass adalah salah satu kaum paling misterius dalam Al-Qur’an. Berbeda dengan kaum lain yang kisahnya cukup jelas, identitas Ashab al-Rass menjadi ikhtilaf (perbedaan pendapat) yang luas di kalangan mufassir.
Ibn Kathir mengakui:
وأما أصحاب الرس فقد اختلف المفسرون فيهم اختلافًا كثيرًا
“Adapun Ashab al-Rass, para mufassir sangat berbeda pendapat tentang mereka.”
Al-Qurtubi bahkan menyebut:
وقد اختُلف في أصحاب الرس اختلافًا كثيرًا، والله أعلم بحقيقة أمرهم
“Telah terjadi banyak perbedaan pendapat tentang Ashab al-Rass, dan Allah lebih mengetahui hakikat urusan mereka.”
Pendapat-Pendapat Ulama Tafsir
Pendapat Pertama: Kaum yang Membunuh Nabi Mereka di Sumur
Sumber: Ibn Abbas, Ikrimah, Qatadah
Al-Tabari meriwayatkan dari Ikrimah:
أصحاب الرس: كان لهم نبي يقال له حنظلة، فكذبوه وقتلوه ورسّوه في بئر لهم
“Ashab al-Rass: Mereka memiliki seorang nabi bernama Hanzhalah. Mereka mendustakannya, membunuhnya, dan melemparkannya ke dalam sumur mereka.”
Menurut riwayat ini:
- Nabi mereka bernama Hanzhalah bin Shafwan
- Mereka tinggal di wilayah Yamamah atau sekitarnya
- Setelah membunuh nabi, mereka melemparkan jasadnya ke sumur tua
- Allah kemudian membinasakan mereka
Pendapat Kedua: Sisa-sisa Kaum Tsamud
Sumber: Sebagian tabi’in
Pendapat ini menyatakan bahwa Ashab al-Rass adalah cabang atau sisa dari kaum Tsamud yang bermigrasi ke tempat lain dan kemudian juga dibinasakan. Argumennya adalah kedekatan penyebutan mereka dengan Tsamud dalam kedua ayat.
Namun Al-Razi menolak pendapat ini karena Al-Qur’an menyebut keduanya secara terpisah, yang mengindikasikan bahwa mereka adalah kaum yang berbeda.
Pendapat Ketiga: Kaum Nabi Syu’aib yang Lain
Sumber: Sebagian mufassir
Ada pendapat bahwa Ashab al-Rass adalah kelompok lain dari kaum Nabi Syu’aib, terpisah dari Ashab al-Aikah dan penduduk Madyan.
Al-Baghawi menyebut kemungkinan ini namun tidak menguatkannya.
Pendapat Keempat: Penyembah Pohon di Antakiya
Sumber: Riwayat dari Ka’b al-Ahbar
Menurut riwayat ini:
- Mereka tinggal di wilayah Antakiya (Antioch, Turki selatan sekarang)
- Mereka menyembah pohon cemara (شجرة الصنوبر)
- Allah mengutus nabi kepada mereka
- Mereka membunuh nabi tersebut dan melemparkannya ke sumur
Pendapat Kelima: Kaum di Wilayah Azerbaijan
Sumber: Wahb bin Munabbih
Ibn Kathir mengutip dari Wahb bin Munabbih kisah panjang tentang Ashab al-Rass:
- Mereka tinggal di lembah di wilayah Azerbaijan atau sekitarnya
- Memiliki dua belas kampung di sepanjang sungai yang disebut al-Rass
- Menyembah pohon cemara yang ditanam oleh Yafits bin Nuh
- Allah mengutus nabi dari keturunan Yahudza bin Ya’qub
- Mereka membunuh nabi tersebut dengan melemparkannya ke dalam sumur
- Allah membinasakan mereka dengan angin dan gempa
Pendapat Keenam: Kaum Penyembah Api
Sumber: Sebagian riwayat
Beberapa riwayat menyebut mereka sebagai penyembah api, mirip dengan tradisi Majusi. Namun pendapat ini kurang masyhur.
Pendapat Ketujuh: Kaum dengan Praktik Aneh
Sumber: Riwayat dari Ali bin Abi Thalib
Al-Tsa’labi dan beberapa mufassir meriwayatkan dari Ali radhiyallahu ’anhu kisah yang lebih elaboratif tentang praktik-praktik menyimpang kaum ini, termasuk hubungan dengan wanita saat haid dan berbagai kemungkaran lainnya.
Analisis Kritis Para Ulama
Sikap Al-Tabari
Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan mengambil sikap hati-hati:
والصواب من القول في ذلك أن يقال: إن الله تعالى ذكره أخبر أنه أهلك أصحاب الرس، وجائز أن يكونوا أصحاب البئر، وجائز أن يكونوا الذين ذكر ابن عباس، ولا خبر عندنا بأيّ ذلك من أيّ صحّ
“Pendapat yang benar adalah: Allah memberitahukan bahwa Dia membinasakan Ashab al-Rass. Boleh jadi mereka adalah pemilik sumur, boleh jadi sebagaimana yang disebutkan Ibn Abbas. Tidak ada khabar yang shahih sampai kepada kami tentang yang mana di antara itu.”
Sikap Ibn Kathir
Ibn Kathir mengutip berbagai pendapat lalu berkomentar:
وهذه الأقوال ـ والله أعلم ـ متلقاة من أهل الكتاب، والقدر المشترك بينها أنهم أهلكوا بتكذيبهم رسولهم
“Pendapat-pendapat ini — wallahu a’lam — diterima dari Ahli Kitab. Yang menjadi kesamaan di antaranya adalah bahwa mereka dibinasakan karena mendustakan rasul mereka.”
Sikap Al-Razi
Al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb memberikan perspektif berbeda:
ليس في القرآن بيان حالهم، وما نُقل من الأخبار فيه ما يدل على أن كل واحد من المفسرين قال فيهم قولًا على سبيل الظن، فالأولى أن لا يُقطع فيهم بشيء
“Tidak ada dalam Al-Qur’an penjelasan tentang keadaan mereka. Apa yang diriwayatkan dari berbagai khabar menunjukkan bahwa setiap mufassir berkata tentang mereka berdasarkan dugaan. Maka yang lebih utama adalah tidak memastikan sesuatu pun tentang mereka.”
Hikmah Kekaburan Identitas
1. Fokus pada Pelajaran, Bukan Detail
Ibn ’Asyur dalam Al-Tahrir wa al-Tanwir menjelaskan hikmah mengapa Allah tidak merinci identitas Ashab al-Rass:
إن العبرة في ذكرهم هي التذكير بعقاب المكذبين، لا التعريف بأشخاصهم وتفاصيل أحوالهم
“Pelajaran dari penyebutan mereka adalah pengingatan tentang hukuman bagi para pendusta, bukan pengenalan tentang individu-individu mereka dan detail keadaan mereka.”
2. Universalitas Pesan
Kekaburan identitas justru memperkuat universalitas pesan: pendustaan terhadap rasul berujung kebinasaan, tidak peduli siapa pun kaumnya, di mana pun lokasinya, dan kapan pun zamannya.
3. Peringatan tentang Kelupaan
Al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani memberikan refleksi mendalam:
وفي إبهام أمرهم عبرة: فإن قومًا كانوا ثم فُنوا حتى لم يُعرف منهم إلا الاسم، لَعِبرةٌ لمن اعتبر
“Dalam kesamaran urusan mereka terdapat pelajaran: bahwa suatu kaum pernah ada kemudian musnah hingga tidak dikenal dari mereka kecuali namanya saja — sungguh ini adalah pelajaran bagi yang mau mengambil pelajaran.”
Ini adalah peringatan eksistensial: suatu kaum bisa begitu musnah hingga identitasnya pun menjadi misteri. Apa jaminan bagi Quraisy bahwa mereka tidak akan mengalami hal serupa?
Sintesis: Apa yang Dapat Dipastikan?
Dari berbagai pendapat, beberapa hal dapat disintesiskan sebagai konsensus minimal:
Yang Disepakati:
- Mereka adalah kaum yang nyata — bukan kiasan atau metafora
- Mereka mendustakan rasul — sebagaimana ditegaskan dalam QS. Qaf: 14
- Mereka dibinasakan — sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Furqan: 38
- Nama mereka terkait dengan sumur — mayoritas ulama sepakat makna linguistik ini
- Kisah detail mereka tidak dirinci Al-Qur’an — dan ini adalah pilihan ilahi yang mengandung hikmah
Yang Diperselisihkan:
- Lokasi geografis mereka
- Nama nabi yang diutus kepada mereka
- Bentuk spesifik pendustaan mereka
- Bentuk azab yang menimpa mereka
- Periode waktu keberadaan mereka
Riwayat Panjang dari Wahb bin Munabbih
Meski status riwayatnya diperselisihkan, kisah dari Wahb bin Munabbih yang dikutip Ibn Kathir cukup elaboratif dan sering dirujuk. Berikut ringkasannya:
Latar Belakang
Ashab al-Rass tinggal di dua belas kampung di sepanjang lembah yang dialiri sungai bernama al-Rass di wilayah timur (Azerbaijan atau sekitarnya). Mereka memiliki pohon cemara besar yang ditanam oleh Yafits bin Nuh setelah banjir besar.
Praktik Keagamaan Mereka
Mereka menjadikan pohon ini sebagai objek ibadah:
- Setiap kampung memiliki cabang dari pohon utama
- Mereka mengalirkan air sungai ke pohon-pohon ini
- Mengharamkan air sungai untuk keperluan lain saat ritual
- Melakukan festival tahunan di sekitar pohon utama
- Menyembelih kurban dan membakarnya sebagai persembahan
Pengutusan Nabi
Allah mengutus seorang nabi dari keturunan Yahudza bin Ya’qub kepada mereka. Ia berdakwah selama bertahun-tahun namun tidak ada yang beriman.
Pembunuhan Nabi
Pada suatu festival besar, nabi tersebut menasihati mereka dengan keras. Mereka marah dan:
- Menangkap dan menyiksa nabi
- Melemparkannya ke dalam sumur (al-rass) yang dalam
- Menutup sumur tersebut
Azab
Setelah pembunuhan tersebut:
- Allah mengirimkan angin panas yang membakar
- Disusul gempa bumi yang menenggelamkan kampung-kampung mereka
- Pohon-pohon sembahan mereka terbakar
- Seluruh kaum binasa tanpa tersisa
Posisi Ashab al-Rass dalam Surah Qaf
Urutan Penyebutan
Dalam QS. Qaf: 12, Ashab al-Rass disebut di posisi kedua, setelah kaum Nuh dan sebelum Tsamud:
كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَأَصْحَابُ الرَّسِّ وَثَمُودُ
Al-Biqa’i dalam Nazhm al-Durar mengomentari urutan ini:
Penyebutan setelah kaum Nuh mungkin menunjukkan kedekatan temporal — mereka mungkin hidup tidak lama setelah banjir Nuh. Ini selaras dengan riwayat yang menyebut pohon sembahan mereka ditanam oleh Yafits bin Nuh.
Fungsi Retoris
Penyebutan kaum yang identitasnya kabur di antara kaum-kaum yang terkenal memiliki efek retoris tersendiri: seolah berkata kepada Quraisy, “Bahkan ada kaum-kaum yang begitu musnah hingga kalian tidak tahu siapa mereka. Apakah kalian ingin bernasib sama?”
Pelajaran dari Kisah Ashab al-Rass
1. Kelupaan Sejarah sebagai Azab Tersendiri
Kaum-kaum lain (Nuh, ‘Ad, Tsamud, Fir’aun) masih dikenal kisahnya. Ashab al-Rass bahkan identitasnya menjadi misteri. Ini menunjukkan bahwa kelupaan total adalah bentuk azab yang lebih mengerikan dari sekadar kebinasaan fisik.
2. Universalitas Hukum Ilahi
Tidak peduli siapa mereka, di mana mereka tinggal, atau apa bentuk spesifik pendustaan mereka — hukum ilahi berlaku universal: pendustaan berujung kebinasaan.
3. Keterbatasan Pengetahuan Manusia
Kisah Ashab al-Rass mengajarkan kerendahan hati epistemologis: ada hal-hal yang Allah pilih untuk tidak merinci, dan sikap yang tepat adalah menerima keterbatasan ini sambil mengambil pelajaran dari apa yang disampaikan.
4. Fokus pada Esensi
Al-Qur’an tidak memberikan detail yang memuaskan rasa ingin tahu historis, karena tujuannya bukan dokumentasi sejarah melainkan hidayah dan peringatan. Yang penting bukan siapa Ashab al-Rass, melainkan mengapa mereka binasa.
Refleksi Penutup
Al-Razi menutup pembahasannya tentang Ashab al-Rass dengan refleksi yang indah:
واعلم أن الله تعالى ذكر هؤلاء الأقوام ليعتبر بهم المشركون، وليعلموا أن سنة الله في إهلاك المكذبين جارية، فليحذروا أن يحل بهم ما حل بمن قبلهم
“Ketahuilah bahwa Allah menyebut kaum-kaum ini agar orang-orang musyrik mengambil pelajaran, dan agar mereka tahu bahwa sunnah Allah dalam membinasakan para pendusta terus berlaku. Maka hendaklah mereka waspada bahwa akan menimpa mereka apa yang telah menimpa orang-orang sebelum mereka.”
Kekaburan identitas Ashab al-Rass, alih-alih menjadi kelemahan, justru memperkuat pesan Al-Qur’an: begitu banyak kaum yang telah binasa — bahkan ada yang begitu musnah hingga identitasnya menjadi misteri — dan semuanya karena satu sebab yang sama: mendustakan rasul yang diutus kepada mereka.
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.