Melanjutkan bahasan sebelumnya, keenam pokok intisari kandungan Al-Qur'an dijelaskan sebagai berikut:
1. Mengenal Allah
Bagian ini berisi penjelasan tentang makrifat atau mengenal Allah. Inilah yang dikenal dengan kibrit atau belerang merah. Mengenal Allah sendiri terbagi tiga tingkatan:
- Mengenal dzatNya
- Mengenal sifat-sifatNya
- Mengenal perbuatan-perbuatanNya
Ketiga tingkatan di atas merupakan batu yaqut. Dan, ketiganya merupakan kegunaan utama dari kibrit merah. Sebagaimana yaqut memiliki beberapa tingkatan, kibrit pun memiliki beberapa tingkatan, yaitu ada yang merah, campuran merah-hitam (akhab), dan kuning. Sebagiannya lebih unggul daripada yang lain. Demikian ketiga makrifat di atas. Semuanya tidak berada dalam tingkatan yang sama.
Namun, tingkatan paling tinggi adalah mengenal dzatNya atau berada dalam tingkatan yaqut merah. Disusul oleh tingkatan di bawahnya, yaitu mengenal sifat-sifatnya atau berada dalam tingkatan yaqut merah-hitam, disusul lagi oleh tingkatan di bawahnya, mengenal perbuatan-perbuatannya atau berada dalam tingkatan yaqut kuning.
Mengenal DzatNya
Oleh karena mahal, mulia, dan langkanya yaqut merah maka tidak banyak raja yang memiliki yaqut ini. Banyak yang mendapatkannya tetapi kualitasnya lebih rendah. Demikian halnya dengan mengenal dzat Allah. Ia ranah paling sempit dan barang yang paling sulit didapat, bahkan dapat dikatakan sebagai saripati pikiran yang paling berat diterima akal. Berkenaan dengan makrifat ini, Al-Quran sendiri hanya memberi isyarat-isyarat atau rambu-rambu gambaran yang menunjukkan pentingnya penyucian (taqdis) mutlak. Contohnya seperti yang disebutkan dalam surah berikut:
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikanNya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. (Asy-Syura 42:11)
Katakanlah, "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia" (Al-Ikhlas 112: 1-4)
Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. (Al-An'am 6:110-101)
Mengenal SifatNya
Berikutnya adalah mengenal sifat-sifat. Ranahnya lebih luas dan pembahasannya lebih banyak. Karena itu, cukup banyak ayat yang berbicara tentang ilmu, kodrat, hayat, kalam, hikmah, sama', bashar, dan sifat-sifat Allah lainnya.
Mengenal PerbuatanNya
Terakhir adalah mengenal perbuatan-perbuatanNya. Ayat-ayat yang berbicara tentangnya tak terhitung lagi. Bahkan, tidak ada sesuatu di alam wujud ini kecuali Allah dan perbuatan-perbuatan-Nyua. Segala sesuatu selain Dia adalah perbuatan-perbuatanNya. Malahan, Al-Qur'an sendiri secara terang-terangan menyebutkan contoh-contoh perbuatan Allah di alam nyata, seperti langit dan bintang-bintang, bumi dan gunung-gunung, pepohonan dan makhluk hidup, lautan dan tumbuh-tumbuhan, keluarnya air sungai Eufrat, dan sebab-sebab kehidupan lainnya. Semuanya tampak di hadapan mata.
Namun, perbuatanNya yang paling mulia, paling mengagumkan, dan paling menunjukkan keagungan Dzat pembuatnya adalah segala sesuatu yang tidak kasatmata. Di antaranya perbuatan-perbuatannya di alam malakut, seperti para malaikat, unsur-unsur ruhani, ruh, hati yang mengenal Allah di antara sekian banyak bagian organ manusia. Sebab, ruh dan kalbu termasuk ke dalam perbuatan Allah yang ada di alam gaib dan alam malakut. Artinya, keluar dari alam kerajaan (mulki) dan alam nyata-Nya. Di antara perbuatan-Nya di alam gaib dan alam malakut adalah para malaikat bumi yang ditugaskan berurusan dengan manusia dan pernah bersujud kepada Adam a.s.
Perbuatan lainnya adalah setan yang menggoda manusia dan pernah menolak sujud hormat kepada Adam. Berikutnya adalah para malaikat langit, termasuk golongan tertinggi mereka yang disebut dengan golongan malaikat Karubiyyin. Mereka beri'tikaf di dekat Dzat yang Mahasuci. Tidak menoleh sedikit pun kepada kaum Adam. Tidak pula menoleh kepada segala sesuatu selain Allah, karena tenggelam dalam keindahan, ketuhanan, dan keagunganNya. Mereka memfokuskan waktu dan perhatian hanya kepadaNya, bertasbih siang dan malam. Sesungguhnya seorang hamba Allah yang disibukkan oleh keagunganNya tak mungkin berpaling sedikit pun kepada Adam dan keturunannya. Artinya, pada batas ini, manusia tidak dipandang besar.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw. bersabda,
Sesungguhnya, Allah memiliki sebuah bumi putih. Perjalanan matahari terhadap bumi itu selama tiga puluh hari, seperti hari-hari dunia selama tiga puluh kali. Bumi itu penuh dengan makhlak yang tidak tahu bahwa Allah dimaksiati di bumi. Mereka juga tidak tahu bahwa Allah telah menciptakan Adam dan Iblis.
Sungguh, betapa luasnya kerajaan Allah SWT.
Ketahuilah bahwa kebanyakan perbuatan dan perbuatanNya paling mulia tidak diketahui kebanyakan makhluk. Sebab, jangkauan mereka terbatas pada alam indrawi dan alam imajinasi. Sementara kedua alam tersebut merupakan hasil akhir dari alam malakut. Pengetahuan demikian tak ubahnya ibarat pemahaman kulit terluar di hadapan pemahaman intisari paling dalam. Siapa pun hanya memiliki pemahaman dalam tingkatan ini, seakan-akan dia melihat buah delima hanya kulitnya, seakan melihat keunggulan manusia pada luarnya saja. Inilah penjelasan bagian pertama yang berisi tentang tingkatan-tingkatan batu yaqut. Pada bagian berikutnya, kami akan menyebutkan ayat-ayat Al-Quran yang secara khusus berkaitan dengan tujuan ini. Dan ayat-ayat itulah yang menjadi jantung, intisari, rahasia Al-Qur'an.
2. Mengetahui Jalan Menuju Allah
Caranya adalah tekun dan bersungguh-sungguh, sebagaimana firman Allah,
Dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan (Al-Muzzammil 73:8)
Maksudnya adalah menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. Hal ini sejalan dengan firman dalam ayat berikutnya yang menyatakan,
Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung (Al-Muzammil Al-Muzzammil 73:9)
Adapun menghadap Allah tak mungkin dilakukan kecuali dengan senantiasa mengingatNya, sedangkan berpaling dari selainNya tak mungkin dilakukan kecuali dengan melawan hawa nafsu dan membersihkan hati dari segala kotoran dunia. Hasilnya adalah kemenangan yang nyata, sebagaimana firman-Nya,
Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia melaksanakan sholat (Al-A'la 87:14-15).
Walhasil, mengetahui jalan menuju Allah dilakukan dengan dua cara.
- Bersungguh-sungguh mengingatNya
- Melawan apa pun yang dapat mengganggu hubungan dengan Allah.
Itulah jalan perjalanan menujuNya. Dalam perjalanan ini, tidak ada gerakan dari pihak mana pun, baik dari pihak yang menuju maupun dari pihak yang dituju, sebab kedua-duanya telah bersama-sama. Tidakkah engkau mendengar firman Allah yang menyatakan,
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Qaf 50:16)
Dengan demikian, baik hamba selaku pihak yang menuju maupun Allah selaku pihak yang dituiu ibarat sebuah benda dengan cermin. Benda itu tak mungkin terlihat jelas apabila cerminnya buram dan kotor. Sehingga, ketika kaca cermin dibersihkan maka terlihatlah bayangan benda dengan jelas. Tanpa harus ada pergerakan dari pihak benda menuju cermin. Juga tanpa harus ada pergerakan dari cermin menuju benda. Yang terpenting adalah hilangnya sesuatu yang menghalangi keduanya.
Begitu pun Allah dengan hambaNya. Dia adalah Dzat yang Mahatampak dengan DzatNya dan tidak tersembunyi. Sungguh, mustahil cahaya bisa disembunyikan. Justru, dengan cahaya segala yang tersembunyi pun bisa dilihat. Ingatlah, Allah itu cahaya langit dan bumi. Tidak sampainya cahaya ke mata hanya disebabkan oleh dua hal, yaitu (1) kotornya mata ataupun (2) lemahnya mata menatap cahaya tersebut. Kita pun tahu, pupil mata tak mampu menangkap cahaya yang sangat terang. Hal itu tak ada bedanya dengan ketidakmampuan mata telanjang melihat sinar matahari. Karenanya, kita harus bersihkan kotoran yang sekiranya dapat menghalangi pandangan mata hati dan mengganggu daya pandangnya.
Jadi, Allah di hadapan hamba bagaikan suatu benda dalam cermin. Sehingga, tatkala Dia menampakkan diri melalui cermin tadi, boleh jadi engkau terburu-buru mengatakan bahwa Dia berada dalam cermin tersebut. Saat itulah pakaian nasut berganti pakaian lahut hingga Allah menetapkanmu dengan perkataan yang teguh. Padahal, engkau pun tahu bahwa benda itu tidak berada pada cermin, melainkan hanya bayangannya yang tampak padanya. Andai benda itu benar-benar ada pada cermin, maka tidak terbayang ada satu benda tampak pada banyak cermin dalam saat yang bersamaan. Jika memang demikian, tentu saat tampak pada satu cermin maka ia tidak akan terlihat pada cermin yang lain. Bagaimana mungkin itu terjadi. Sebab, Dia tampak terlihat di hadapan mereka yang sudah makrifat dalam waktu yang bersamaan. Bahkan, dalam sebagian cermin, Dia terlihat begitu kuat, jelas, nyata, dan terus-menerus. Namun dalam sebagian cermin yang lain, Dia lebih samar dan cenderung berubah-ubah. Hal itu bergantung pada kejernihan, penopang, fokus cermin, dan ketegakan muka cermin itu sendiri. Oleh sebab itu, Rasulullah saw. bersabda,
Sesungguhnya Allah menampakkan diri kepada manusia pada umumnya, dan kepada Abu Bakar pada khususnya.
Dengan demikian, mengetahui perjalanan seoran hamba menuju Tuhannya merupakan salah satu lautan yang dalam di antara sekian banyak lautan Al-Qur'an. Dan pada bagian akhir nanti, kami akan menyajikan kepada pembaca ayat-ayat Al-Quran yang secara khusus membimbing jalan menuju Allah. Mudah-mudahan kau bisa merenungkannya, sehingga segala pintu yang selayaknya terbuka untukmu jadi terbuka. Ayat-ayat itu akan disajikan dalam bagian mutiara dan permata Al-Quran.
3. Mengetahui Keadaan Hamba Setelah Sampai Tujuan
Bagian ini mencakup penjelasan tentang ketenangan dan kenikmatan yang ditemui mereka yang telah sampai pada tujuan. Bahkan, di antara seantero kenikmatan yang didapatkannya adalah surga yang kenikmatan tertingginya adalah melihat wajah Allah SWT. Disebutkan pula pada bagian ini bagaimana kehinaan dan siksaan yang akan diterima oleh mereka yang terhalang akibat mengabaikan pendakian menujuNya. Di antara sekian banyak siksaan yang ditimpakan kepada mereka adalah neraka Jahim, yang siksaan terberatnya adalah dihalangi dan dijauhkan dari segala nikmat. Naudzubillah. Marilah kita berlindung darinya.
Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka (Al-Muthaffifin 83:15)
Dikisahkan pula di dalamnya keadaan sebelumnya tentang dua kelompok besar saat menghadapi peristiwa kebangkitan, pengumpulan, penghisaban, penimbangan amal, dan melintas jembatan al-shirath. Namun, informasinya sudah cukup jelas sehingga seperti makanan bagi seluruh makhluk. Hanya saja, informasi tersebut memiliki banyak rahasia tersembunyi, sehingga seperti kehidupan bagi segelintir makhluk. Hampir sepertiga ayat dan surah Al-Qur'an membahas tentang ini. Karena itu, kami merasa tidak perlu untuk menghimpunnya, karena jumlahnya sangat banyak dan tak terhitung. Kami sebutkan beberapa saja sekadar bahan untuk direnungkan. Bagian ini kemudian disebut dengan zamrud hijau.
4. Keadaan Orang yang Menempuh dan Meninggalkan Jalan Allah
Untuk mengetahui keadaan para hamba yang telah menempuh jalan Allah, lihatlah kisah para nabi dan para kekasih Allah, seperti Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Yahya, Nabi Isa, Siti Maryam, Nabi Dawud, NabiSulaiman, Nabi Yunus, Nabi Luth, Nabi Idris, Nabi Khadhir, Nabi Syu'aib, Nabi Ilyas, Nabi Muhammad saw, malaikat Jibril, malaikat Mikail, dan malaikat-malaikat lainnya.
Adapun keadaan orang-orang yang kufur dan menyimpang dari jalan Allah, perhatikanlah kisah Raja Namrud, Raja Fir'aun, kaum 'Ad, kaum Nabi Luth, kaum Tuba', Ashhabul Aikah, kaum kafir Mekah, para penyembah berhala, iblis, setan, dan antek-anteknya. Kisah-kisah mereka disajikan sebagai pelajaran, perhatian, dan peringatan. Bagian ini juga mencakup tentang berbagai rahasia, rumus, dan isyarat yang dapat mengantarkan kita kepada perenungan yang panjang. Namun, di balik kisah kedua kelompok di atas terdapat minyak ambar dan material terbaik lainnya. Banyak sekali ayat yang berkisah tentang mereka sehingga tidak sulit dicari dan dihimpun.
5. Penolakan dan Penentangan Orang-orang Kafir
Kekufuran mereka ada tiga bentuk:
-
Menyebut Allah dengan sebutan-sebutan yang tak layak. Contohnya menyebut para malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah. Menurut mereka, Dia juga memiliki anak dan sekutu. Dia adalah sosok ketiga di antara tiga sosok (trinitas).
-
Mengata-ngatai Rasulullah saw. sebagai penyihir, paranormal, dan pembohong. Mereka juga ingkar terhadap kenabiannya. Menurut mereka, Nabi Muhammad adalah manusia biasa seperti manusia-manusia lainnya, sehingga tidak pantas diteladani dan diikuti.
-
Mengingkari hari akhir, menolak konsep kebangkitan dan penghimpunan seluruh makhluk setelah kematian, tidak mengakui surga dan neraka, mengingkari akibat ketaatan dan kemaksiatan.
Dan di balik hujjah Allah terhadap mereka terdapat rahasia, kelembutan, dan hakikat yang tersembunyi. Sehingga hujjah-hujjah tersebut dapat diibaratkan sebagai antioksidan atau penawar racun yang sangat ampuh. Dan ayat-ayat yang berbicara tentangnya sangat banyak.
6. Mengetahui Cara Meramaikan Jalan Allah, Menyediakan Bekal, dan Mempersiapkan Senjata Melawan Pencuri dan Pembegal Jalanan
Ketahuilah, dunia adalah salah satu persinggahan bagi orang-orang yang menempuh jalan Allah. Badan hanyalah kendaraan. Siapa saja yang tidak mempersiapkan diri menghadapi persinggahan itu dan tidak merawat kendaraannya, maka "dipastikan perjalanannya tidak akan sempurna.
Siapa pun yang tak memperhatikan masalah perbekalan ini, tidak akan bisa bersungguh-sungguh dan mencurahkan segenap kemampuannya sebagai satu-satunya jalan menujuNya. Dan semua itu tidak akan terwujud kecuali badannya tetap sehat dan keturunannya selalu terjaga. Namun, kedua hal itu tak mungkin tercipta kecuali harus menjaga sebab-sebabnya, menolak hal-hal yang akan merusak dan menghancurkan keduanya.
Sebab-sebab untuk menjaga kekuatan serta kesehatan badan adalah makan dan minum, sedangkan sebab untuk menjaga keturunan adalah pernikahan. Maka dari itu, makanan diciptakan untuk menjadi sebab kehidupan, sedangkan perempuan diciptakan sebagai sarana berketurunan. Hanya saja, perlu diingat bahwa perkara yang dimakan dan perempuan yang dinikahi haruslah memenuhi sejumlah ketentuan. Andai kedua perkara tersebut dibiarkan tanpa memperhatikan hukum-hukum syariat, dipastikan mereka akan saling bunuh dan saling meremehkan. Akibatnya, bal itu akan membuat mereka lalai terhadap jalan Allah. Sehingga, bukan mustahil mereka akan binasa.
Atas dasar itu, Al-Qur'an menjelaskan ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan harta, seperti ketentuan tentang jual-beli, riba, utang-piutang, harta waris, nafkah, pembagian harta perang, kewajiban zakat, perbudakan, pemerdekaan budak, pembebasan tawanan, dan sebagainya.
Di samping itu, Al-Qur'an juga memperkenalkan sistem kepemilikian harta yang sah saat terjadi klaim atau tuduhan melalui cara pengakuan, sumpah, dan kesaksian. Sementara ketentuan tentang pernikahan telah dijelaskan oleh ayat-ayat pernikahan, perceraian, rujuk nikah, iddah, talak khulu', mahar, sumpah ila, zihar dan lian. Sementara perempuan-perempuan yang boleh dinikahi telah dijelaskan oleh ayat-ayat tentang mahram, baik mahram karena nasab, persusuan, dan karena perkawinan.
Adapun sebab-sebab guna menolak rusaknya badan dan keturunan adalah penjatuhan sanksi-sanksi yang menjerakan, seperti perintah memerangi kaum kafir dan melawan orang-orang zalim, penetapan hukuman had, denda, tazir, kitarat, diyat, dan qisas.
Hukuman qisas dan diyat diberlakukan untuk menolak segala upaya yang akan mengancam keselamatan nyawa. Sementara hukuman had terhadap pelaku pencurian dan pembegalan diberlakukan untuk menjaga keselamatan harta yang menjadi sebab penghidupan. Kemudian hukuman cambuk terhadap pelaku zina, liwath, dan menuduh zina, diberlakukan untuk menjaga kemurnian keturunan dan garis nasab, mencegah segala yang dapat merusak perkawinan dan keturunan.
Kemudian peperangan melawan orang kafir ditujukan untuk menyingkirkan segala gangguan yang datang dari mereka yang akan berakibat pada rusaknya penghidupan dan terganggunya praktik keagamaan, dimana keduanya merupakan sarana yang mengantarkan kita kepada Allah. Demikian halnya peperangan melawan penguasa zalim dan melampaui batas ditujukan untuk menolak terjadinya kekacauan, terutama diakibatkan oleh rezim mereka yang menekan sistem politik keagamaan, yang semestinya dijalankan oleh penjaga para salik atau penempuh jalan Allah dan penjamin para penegak kebenaran sebagai pengganti utusan Rabbul Alamin di muka bumi. Oleh sebab itu, tak samar lagi, kalian harus berpegang terhadap ayat-ayat yang berhubungan dengan semua ketentuan hukum di atas. Di balik hukum-hukum itu tentu ada kemaslahatan, hikmah, dan manfaat yang hanya didapat oleh mereka yang mampu merenungkannya demi kebaikan syariat yang didirikan demi kemaslahatan hukum-hukum dunia. Pembahasan ini mencakup pembahasan halal, haram, dan ketentuan Allah lainnya. Semua ayat tersebut dapat diibaratkan sebagai misik azhfar, yakni minyak misik terbaik yang terkandung dalam Al-Qur'an.
Jika keenam poin di atas digabungkan dengan poin-poin turunannya sebagai satu jalan lurus untuk menuju Allah maka jumlahnya jadi sepuluh, yaitu:
- Mengetahui Dzat Allah
- Mengetahui sifat-sifat Allah
- Mengetahui perbuatan-perbuatan Allah
- Mengetahui keadaan setelah sampai kepada Dzat yang dituju
- Mengetahui jalan lurus
- Menjernihkan dan menghiasi jiwa
- Mengetahui keadaan para kekasih Allah
- Mengetahui keadaan para musuh Allah
- Mengetahui penolakan orang-orang kafir
- Menyebutkan ketentuan-ketentuan hukum Allah.
Oleh sebab itu, renungkanlah Al-Qur'an dan carilah perkara-perkara langka di dalamnya. Mudah-mudahan kita mendapati kumpulan ilmu para generasi awal dan generasi akhir dan bagaimana asal-usulnya. Sebab, tujuan tafakur sendiri adalah mengantarkan kita dari perkara yang bersifat umum kepada perkara terperinci yang sangat luas dan mendalam laksana lautan samudera yang tiada bertepi.
Dikutip dari Jawahirul Qur'an oleh Abu Hamid al-Ghazali al-Thusi.
Photo credit: Andrej Chudy