Bersikap Lemah Lembut

Bersikap Lemah Lembut

Suatu hari Aisyah duduk di atas untanya, tapi untanya sulit berjalan, akhirnya Aisyah memukul-mukul unta tersebut agar mau berjalan.
Melihat itu Rasulullah berkata, "Berlakulah dengan lembut wahai Aisyah. Sesungguhnya kelembutan itu tidak ada pada sesuatu kecuali bahwa sesuatu itu akan menjadi indah, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu kecuali sesuatu itu akan cacat" (HR Muslim)

Di lain waktu Rasulullah juga bersabda,

Sesungguhnya Allah itu Maha Pengasih dan Dia senang pada kelembutan. Dia memberi pada kelembutan yang tidak dia berikan pada kekasaran, dan apa yang tidak Dia berikan pada selainnya (HR Muslim)

Sahabat, seringkali mungkin kita bersitegang dengan kawan sendiri ketika kita berdiskusi dan berdialog, atau ketika menegur kesalahan mereka sehingga seringkali pula sahabat kita itu sakit hati dan tersinggung, akibatnya bukan kebaikan yang kita dapat tapi malah ukhuwah yang retak. Rasulullah mengatakan pentingnya lemah lembut ini dalam interaksi kita dan beliau mencontohkan sendiri dalam kehidupannya bagaimana ia bersikap lemah lembut terhadap sahabat terhadap sesama mukmin.

Di dalam Al-Qur’an dinyatakan,

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Ali Imran/3:159)

Kelemahlembutan ini pulalah jalan yang ditempuh oleh para Rasul, bagaimana lemah lembutnya Ibrahim as terhadap ayahnya, sebagaimana dialog itu dikisahkan dalam Al-Qur’an:

Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya,
"Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?
Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.
Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan".

Berkata bapaknya, "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama"

Berkata Ibrahim, "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo'a kepada Tuhanku" (Maryam/19:42-48)

Atau cukuplah kisah Musa as yang datang kepada Fir'aun manusia terburuk perangainya yang pernah lahir ke dunia. Allah pun menyuruh Musa as untuk berkata lemah lembut kepada Fir'aun:

Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (Thaha/20:43-44)

Dan katakanlah (kepada Fir'aun), "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)? Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya" (An-Naziat/79:18-19)

Nah... Bukankah kita tak sebaik Musa? Dan kawan kita pun tak seburuk Fir'aun? Lalu kenapa kita tak mau berlaku lemah lembut dalam menasehati mereka?

Sesungguhnya kelembutan itu tidak ada pada sesuatu kecuali bahwa sesuatu itu akan menjadi indah, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu kecuali sesuatu itu akan cacat (HR Muslim)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan di dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (Maryam 19:96)

Wallahu a’lam bish-shawwab.

Dikutip dan disertai tambahan dari kompasiana.com.

Photo credit: Alisa Anton