Para Mufasir sepakat surah Adh-Dhuha dan Al-Insyirah keduanya diturunkan di Mekkah. Menurut At-Tabrisi (wafat 548H) kedua surah ini awalnya berasal dari satu surah karena Nabi saw biasa membaca keduanya sekaligus dalam satu rakaat tanpa dipisahkan dengan Basmalah, di samping kesamaan gaya bahasa dan isinya.
Sebagian besar Mufasir berpendapat Adh-Dhuha dan Al-Insyirah menjelaskan kondisi Rasulullah pada awal kerasulan serta pertolongan Allah terhadap dakwah beliau.
Namun demikian, di dalam surah ini sebenarnya Allah SWT menerangkan basic akhlak yang diperlukan seorang pendakwah (yang menjadi tema pokok Surah Adh-Dhuha) dan prinsip-prinsip dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan di dalam berdakwah (yang menjadi tema pokok Surah Al-Insyirah).
Basic Akhlak Seorang Pendakwah
1. Naik-Turun Kehidupan adalah Sunnatullah
Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi (tengah) malam apabila telah sunyi (gelap) (1-2)
Surah ini dibuka dengan penjelasan bahwa kehidupan dunia, bagi siapa pun jua, pasti akan mengalami naik dan turun, sebagaimana silih bergantinya siang dan malam yang terjadi setiap hari. Kemudahan dan kesulitan. Kelapangan dan kesempitan. Optimisme dan pesimisme/kekhawatiran. Kedatangan dan kepergian. Inilah yang digambarkan sebagai matahari sepenggalah naik pada waktu Dhuha (1) dan malam yang sunyi dan gelap (2). Yang gelap sekarang suatu saat akan terang kembali, yang terang sekarang suatu saat pun akan gelap kembali. Demikian pula seorang pendakwah, hari-harinya akan diwarnai terang-gelap sebagaimana sudah menjadi sunnatullah kehidupan.
Hal ini dijelaskan pula di dalam ayat berikut:
Sungguh, telah berlalu sebelum kamu as-sunan (sunnah-sunnah), karena itu berjalanlah di bumi, dan perhatikanlah bagaimana kesudahan para pendusta. (Ali Imran 3:137)
Menurut Quraish Shihab, as-sunan (bentuk jama’ dari sunnah) berarti hukum-hukum yang tidak berubah. Sunnah-sunnah tersebut antara lain: yang melanggar perintah Allah SWT dan perintah Rasul akan binasa dan yang mengikutinya akan berbahagia; yang menegakkan disiplin akan sukses; hari-hari kekalahan dan kemenangan silih berganti, dan sebagainya.
2. Prasangka Baik terhadap Allah
Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. (3)
Maka Allah SWT menjamin tidak akan pernah lengah apalagi meninggalkan hambaNya yang beriman sendirian. Dia Maha Mengetahui, pun bisikan lirih hambaNya (3).
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (Al-An’am 6:11)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Qaf 50:16)
Kita pun diminta untuk menjaga prasangka baik terhadap Allah, bahwa pasti segala yang terjadi ini atas sepengetahuanNya, dan Dia tidak akan meninggalkan kita sendiri celaka dan hidup sia-sia karena permasalahan yang dihadapi.
Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada pula benci kepadamu (3)
3. Melampaui Kehidupan Dunia dan Fokus pada Hari Kemudian
Dan sesungguhnya Hari Kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan) (4)
Kemudian Allah mengingatkan kita bahwa masih ada Hari Kemudian yang menjadi harapan dimana setiap amal akan dibalaskan dengan sempurna dan keadilan akan ditegakkan seadil-adilnya. Kita diminta untuk melampaui naik-turunnya kehidupan dan memfokuskan perhatian kepada Hari Kemudian (4). Tidak perlu terlalu sedih atas kehilangan dan kegagalan. Jangan pula terlalu bergembira karena mendapatkan sesuatu atau keberhasilan, karena semua yang kita alami sudah ditetapkan dan dalam penglihatan Allah SWT.
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (Al-Hadid 57:22-23)
Atau di ayat lain disebutkan,
...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah 2:216)
4. Tidak Ada Amal yang Sia-Sia
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas (5)
Ingatlah, bahwa tidak akan ada amal yang sia-sia. Setiap kebaikan akan tercatat tanpa dikurangi sedikit pun, bahkan akan dibalas dengan kebaikan beratus kali lipat sehingga kita akan ridho dan puas, serta tidak ada balasan bagi kebaikan kecuali kebaikan semata.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Al-Zalzalah 99:7-8)
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya... (Al-Baqarah 2:286)
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah 2:261)
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (Ar-Rahman 55:60)
5. Sadar Diri dan Rendah Hati
Selanjutnya Allah mengingatkan kondisi kita sebagai hambaNya yang bermula dari masa ‘kegelapan’ dan ‘penuh kekurangan’:
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? (6)
Pertama, laksana seorang yatim. Dari sebelumnya tidak ada yang melindungi, belum tahu rasa Allah, hingga diperkenalkan rasa iman, ketauhidan yang kuat dan menentramkan hati.
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. (7)
Kedua, laksana seorang linglung. Dari sebelumnya tidak tahu arah dan tujuan agar hidup selamat dunia akhirat, hingga akhirnya menerima hidayah berupa diutusnya seorang rasul yang penuh kasih sayang, yang menjadi figur teladan serta mengajarkan syariat Islam dan Al-Qur’an - yang menjadi rambu petunjuk yang jelas mana yang benar dan salah, serta amal yang menyelamatkan dan mencelakakan.
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Al-Jumu'ah 62:3)
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Ali Imran 3:164)
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. (8)
Ketiga, laksana seorang yang kekurangan. Dari sebelumnya tidak pasti dan khawatir akan rezeki penghidupannya yang tidak pernah cukup, jauh dari keberkahan hingga menjadi tenang dengan dikaruniakannya jalan-jalan rezeki yang halal dan baik baginya.
6. Berbakti kepada Allah karena Bersyukur atas NikmatNya
Kita kemudian diperintahkan untuk melakukan hal berikut sebagai rasa syukur kita atas ketiga nikmat Allah yang sangat besar di atas:
Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang (9)
- Kepada mereka yang masih ‘yatim’, yang belum mengenal Allah, maka bimbinglah mereka dimana pun kita temui. Tidak pandang usia, kedudukan, suku dan agama. Berlapanghatilah dalam menyampaikan dakwah kepada mereka. Mudah-mudahan melalui kita mereka cepat mendapatkan hidayah iman dari Allah SWT. (9)
Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. (10)
- Kepada mereka yang masih kekurangan, bersabarlah dalam menolong mereka. Akhlak dan sikap kita terhadap mereka lebih utama daripada berapa yang kita berikan / sedekahkan (10)
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan (11)
- Kepada mereka yang ‘linglung’, syiarkanlah nikmat terbesar Allah SWT, yakni hidayah keimanan, akhlak dan syariat yang telah kita terima. Sampaikanlah amanah Tuhan ini kepada mereka yang masih dalam kegelapan (11)
Sampai di sini selesailah bahasan mengenai basic akhlak pendakwah yang bertolak dari rasa syukur atas tiga nikmat utama Allah atas hambaNya yang beriman. Ini akhir dari surah Adh-Dhuha.
Prinsip-Prinsip dalam Berdakwah
Basic akhlak seorang pendakwah yang diterangkan di atas kemudian disambung di dalam surah Al-Insyirah yang membahas beberapa prinsip dalam menghadapi tantangan dakwah.
1. Menjaga Syukur atas Nikmat Allah
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami meninggikan bagimu sebutan (nama)mu (1-4)
Ingatlah basic akhlak pada surah sebelumnya, dimana kita diperintahkan berbakti sebagai wujud rasa syukur kepada Allah:
- Bersyukur kepada Allah yang telah melapangkan dada kita dengan iman. Bersyukur kepada Allah yang telah menerangi hati kita dari kegelapan menuju keridhaan, berkah dan cahaya keimanan
- Bersyukur kepada Allah yang telah melapangkan jalan kehidupan kita, dan menurunkan keberkahan atas kehidupan kita
- Bersyukur kepada Allah yang telah meninggikan nama kita, semakin dikenal dan dihormati dari umat yang mengikuti dakwah kita
2. Jangan Menyerah dalam Menghadapi Kesulitan
Maka (dengan demikian menjadi jelas pula bagimu bahwa) sesungguhnya bersama (atau sesaat sesudah) kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan (5-6)
Maka setelah mengalami jatuh-bangun dalam berdakwah, jangan pernah berputus-asa di tengah jalan. Kesulitan yang dihadapi sesungguhnya datang dengan disertai dengan kemudahan yang tersembunyi. Hal ini disebutkan dua kali pada ayat 5 dan 6 yang menunjukkan penekanan akan kepastian bahwa setiap kesulitan selalu datang dengan disertai oleh kemudahan.
3. Melaksanakan Dakwah dengan Progresif
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (7)
Seorang pendakwah harus terus bergerak progresif (ke arah kemajuan dan lebih baik) dan ekspansif (skala dakwah yang lebih besar). Bila satu proyek dakwah selesai, maka terus dilanjutkan ke proyek dakwah berikutnya. Satu masalah selesai dia harus segera melanjutkan ke bidang dakwah yang lain. Demikian seterusnya.
4. Menjaga Keikhlasan, Mengharapkan Balasan hanya dari Allah
dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (8)
Namun demikian, ingatlah bahwa dalam berdakwah tidak sepantasnya kita mengharapkan balasan dari manusia, tidak mencari keuntungan komersil dari dakwah (lihat bahasan serupa pada Surah Al-Muddatstsir).
Hal ini sangat ditekankan oleh Allah di dalam banyak ayat, diantaranya lima ayat identik yang diulang-ulang berikut:
dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. (Asy-Syu'ara' 26:109, 127, 145, 164, 180)
Catatan Tambahan
Di dalam hampir semua tafsir Surah Adh-Dhuha dan Al-Insyirah ini menceritakan perjalanan psikologis Rasulullah saw pada masa-masa awal dakwah beliau. Namun, Penulis mengadopsi dari Tafsir fi Zhilalil Qur'an oleh Sayyid Quthb yang menekankan relevansi kisah beliau ini dengan kondisi saat ini.
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi tafsir klik di sini.
Photo credit: Aziz Acharki
Diselesaikan pada 20200308