Surah Al-Mudatstsir termasuk kelompok surah Makkiyah. Asal kata al-Muddatstsir adalah al-Mutadatsir, yakni orang yang berselimut dengan pakaiannya untuk tidur atau untuk kehangatan.

Sebagian ulama berpendapat awal surah Muddatstsir adalah ayat yang pertama kali turun, bukan awal surah Al-'Alaq seperti pendapat mayoritas ulama. Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Bukhari dari Jabir ra, bahwasanya dia berkata, "Yang pertama kali turun dari Al-Qur'an adalah ayat-ayat awal Surah Muddatstsir."

Persiapan sebelum Berdakwah

Melanjutkan persiapan dakwah yang dijelaskan di dalam surah Al-Muzzammil sebelumnya, di sini dijelaskan persiapan tambahan bagi seorang pendakwah.

Rasulullah saw bersabda,

Aku berada di Hira. Setelah selesai dengan keperluanku, aku pun pergi. Aku berjalan pada sebuah lembah dan mendengar suara. Aku melihat ke kiri, ke kanan, ke depan dan belakangku, namun tidak melihat apa pun. Aku lalu mengangkat kepalaku dan melihat sesuatu. Aku pun pergi menemui Khadijah dan berkata, "Selimuti aku dan tuangkan air dingin ke atas kepalaku." Lalu turunlah ayat ini (awal surah Al-Mudatstsir). (HR Bukhari)

Asbabun nuzul surah ini adalah datangnya Malaikat Jibril menyampaikan perintah Allah kepada Rasulullah saw untuk mulai mendakwahkan Islam setelah beliau menerima wahyu pertama di gua Hira (sebagaimana dijelaskan di Surah Al-A'la 96:1-5).

Ayat 1-7 berisi bimbingan kepada Rasulullah sebelum mulai berdakwah. Hal inilah yang menjadi pedoman persiapan dan sikap mental yang harus dimiliki oleh seorang pendakwah, sebagai berikut:

1. Berani keluar dari zona nyaman

Hai orang yang (tidur) berselimut (1)

Seorang pendakwah harus berani keluar dari zona nyaman. Keluar dari menjadi orang biasa yang mengikuti mainstream keumuman masyarakat, mau menjadi tidak populer, stand-up menyampaikan kebenaran.

2. Better starts now

Bangunlah, lalu berilah peringatan! (2)

Seorang pendakwah harus pula mau segera mulai berdakwah, tidak perlu menunggu semua persiapan ready dan fasilitas tersedia. Segera memulai dengan apa yang ada. Persiapan dakwah bisa dilakukan sambil jalan.

3. Mengedepankan keagungan dan kebesaran Allah SWT

dan Tuhanmu agungkanlah! (3)

Seorang pendakwah bukan menyampaikan dengan tujuan untuk meninggikan dirinya, atau mengharumkan namanya, menjadikan dirinya sebagai tokoh yang dipandang di tengah masyarakat. Melainkan, dia harus meluruskan niatnya, bahwa yang akan diagungkan adalah Allah SWT, yang akan disampaikan adalah ayat-ayat dari Dzat yang Maha Besar, dan yang akan diajarkan adalah agama yang disampaikan melalui Rasul utusan Tuhan yang Maha Besar.

Tidak lain yang diharapkannya adalah bagaimana agar umat mau menaati kepada Allah SWT dan RasulNya, sebagaimana disebutkan pada ayat berikut:

Katakanlah, "Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya. (Al-Furqan 25:57)

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, teramat besar belas kasih dan penyayangnya terhadap orang-orang yang beriman. (At-Taubah 9:128)

4. Terlebih dahulu membersihkan dan menjaga kesucian diri

dan pakaianmu bersihkanlah (4)

Seorang pendakwah haruslah memulai dari dirinya, berkomitmen menjaga kebersihan dan kesucian dirinya terlebih dahulu. Sebelum menyeru umatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dia terlebih dahulu harus membersihkan dirinya dari berbagai hal yang kotor dan tidak pantas, termasuk pula dosa-dosa kecil yang umumnya diabaikan, seperti berbohong, ghibah, mengumpat, tidak menjaga pandangan dll. Dirinya haruslah menjadi orang yang pertama mengamalkan kesucian hati, kesucian ucap dan tulisan, serta kesucian akhlak dan perilaku, sebagaimana bersih sucinya pakaian dari kotoran najis yang membatalkan ibadah sholat.

5. Berkomitmen untuk meninggalkan dosa besar

dan perbuatan dosa tinggalkanlah (5)

Seorang pendakwah harus menolak dengan keras dan menjauhi perbuatan dosa besar. Rasulullah menjelaskan tujuh dosa besar ini di dalam hadits berikut:

Nabi SAW bersabda, “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasûlullâh, apakah itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, "(1) Mempersukutukan Allah (syirik); (2) sihir; (3) membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dlm bentuk yg dibenarkan (spt hukum Qishash); (4) memakan riba; (5) memakan harta anak yatim; (6) melarikan diri dari medan perang; (7) menuduh perempuan baik-baik yang lengah dan beriman melakukan zina.” (HR Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

6. Menyadari bahwa tidak pantas mengharapkan keuntungan komersil dalam melaksanakan dakwah

dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (6)

Seorang pendakwah tidak bisa dihindari, akan mengorbankan pribadinya, baik itu materi, waktu, dan tenaganya. Untuk semua itu, tidaklah pantas dia mengusahakan keuntungan materi atas segala pengorbanannya tersebut. Hal ini merupakan adab seorang pendakwah yang merupakan pewaris para Rasul, sebagaimana ditegaskan pada banyak ayat, diantaranya sebagai berikut:

dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. (Asy-Syu'ara' 26:109, 127, 145, 164, 180 - lima ayat ini identik)

Katakanlah, "Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Saba' 34:47)

Katakanlah (hai Muhammad), "Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan." (Sad 38:86)

"Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)." (Yunus 10:72)

Dan (dia berkata), "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui." (Hud 11:29)

"Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?" (Hud 11:51)

Di sini, Allah SWT secara implisit memerintahkan para pendakwah ini untuk memiliki sumber penghasilan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya.

7. Bersabar dalam menghadapi berbagai tantangan, tekanan dan penolakan

Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah (7)

Seorang pendakwah haruslah siap mental, mampu bersabar dan persistent - tidak mudah putus asa dalam menghadapi berbagai tantangan, tekanan dan penolakan masyarakat yang dia dakwahi. Di ayat lain disebutkan, Allah SWT menjanjikan pertolonganNya kepada mereka dalam berdakwah terjun ke masyarakat:

Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu. (Al-An'am 6:34)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: Andrew Draper