Pelajaran dari Kisah Walid bin Mughirah

Kisah ini diawali dengan penjelasan kesudahan bagi orang kafir di Akhirat:

  • Mereka akan mengalami kesusahan yang tidak ada hentinya (8-10)
  • Mereka akan menerima balasan atas kemungkaran mereka. Diterangkan bahwa siksa ini adalah sesuatu yang sangat pasti, yang diilustrasikan Allah SWT sendirilah yang akan memberikan balasan azabNya atas manusia yang Dia ciptakan (11).

Allah SWT menggambarkan profil seseorang yang diberi karunia berlimpah ilmu, keturunan, materi dan kedudukan yang tinggi di dunia. Dia pada awalnya menerima kebenaran Al-Qur'an, namun akhirnya menolaknya demi menghindari dikucilkan, kehilangan materi, kedudukan dan nama baiknya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Walid bin Mughirah mendatangi Nabi saw. Beliau kemudian membacakan Al-Qur'an. Tampaknya dia tersentuh. Berita itu sampai pada Abu Jahal, lalu dia mendatangi Walid. "Paman, kaummu ingin mengumpulkan harta untuk diberikan kepadamu. Kamu mendatangi Muhammad untuk mendapatkan apa yang ada di sisinya. Walid berkata, "Suku Quraisy tahu bahwa aku adalah termasuk orang yang paling banyak harta." Abu Jahal berkata, "Katakan suatu ucapan yan bisa sampai kepada kaummu bahwa kamu mengingkari Al-Qur'an dan kamu membencinya." Walid berkata, "Apa yang akan aku katakan? Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kalian yang lebih mengetahui syair daripada aku, tidak pula rajaznya atau kasidahnya dibandingkan aku. Demi Allah, apa yang diucapkan Muhammad tidak mirip dengan syair sama sekali. Demi Allah, perkataannya manis, di dalamnya sangat indah, bagian atasnya penuh buah, bagian bawahnya memancar air. Dia tinggi tidak ada yang lebih tinggi. Bagian bawahnya bisa menghancurkan." Abu Jahal berkata, "Kaummu tidak merelakanmu sampai kamu mengatakan sesuatu tentang Al-Qur'an." Walid berkata, "Biarkan aku memikirkannya." Lalu dia berkata, "Al-Qur'an ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu)" (24). Kemudian turunlah ayat 11, "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian." (11)

Adalah Walid bin Mughirah, salah satu pembesar Suku Quraisy yang juga salah satu orang terkaya pada masa Nabi saw. Walid dikaruniai banyak keturunan, sebagian riwayat menyebutkan 7 anak, sebagian lain 10 anak. Walid juga dikenal sebagai salah seorang yang paling cerdas dan paling fasih dalam sastra di dalam Suku Quraisy.

Mereka yang kafir (yang diwakilkan oleh Walid bin Mughirah) ini digambarkan diberi banyak kenikmatan dan kelapangan berikut:

  • Mereka dikaruniai materi yang banyak dan melimpah (12)
  • Mereka dikaruniai keturunan yang banyak dan selalu menemani bersama-sama (13)
  • Mereka diberikan keluasan rezeki dan berbagai kebaikan dunia lain, mendapatkan segalanya dengan sangat mudah (14)

Namun Allah SWT kemudian membalikkan segala kenikmatan di atas disebabkan kekafirannya:

  • Doa mereka tidak dikabulkan. Permintaan mereka agar ditambahkan rezeki tidak dipenuhi oleh Allah SWT (15-16)
  • Mereka akan menjalani kehidupan di dunia yang sulit sebagaimana sulit dan payahnya berjalan mendaki (17)

Selanjutnya digambarkan kegelisahan dan kegundahan hati mereka ketika disampaikan kebenaran kepada mereka (dalam kasus Walid, Al-Qur'an dibacakan ke hadapannya). Di satu sisi, mereka sebenarnya mengetahui - dengan ilmu yang mereka miliki - bahwa Al-Qur'an yang disampaikan kepada mereka itu adalah pasti bukan buatan manusia (18-21). Bahwa siapa pun yang menciptakannya pasti kekuasaanNya dan keilmuanNya sangat jauh lebih luas daripada batasan intelektual seorang manusia seperti Rasulullah saw.

Namun akhirnya mereka memilih menolak, menutupi kebenaran, denial terhadap bukti-bukti kebenaran yang sebenarnya sudah mereka saksikan dan akui (22-23). Mereka menolaknya dan dengan sombong mengatakan, "(Al-Qur'an ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia" (24-25). Inilah sebabnya, mereka dikatakan sebagai "kafir" - yang artinya menutupi kebenaran, bersikap denial terhadap kebenaran yang sudah jelas tampak di depan mereka.

Kisah kufurnya Walid ini bertolak belakang dengan kisah berimannya para penyihir Fir'aun ketika berhadapan dengan Musa as. Walid mengakui mukjizat Al-Qur'an ketika mendengarkan ayat-ayatnya. Para penyihir Fir'aun pun mengakui mukjizat ular jelmaan dari tongkat Musa as yang memakan habis ular-ular buatan mereka. Namun para penyihir Fir'aun segera menyungkur dan bersujud, beriman kepada risalah Allah, sebagaimana diceritakan pada ayat berikut:

Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. "Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang." Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata, "Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa." (Thaha 20:69-70)

Bahkan dikisahkan juga, para penyihir yang spontan beriman itu pun tidak bergeming walaupun mereka diancam dipotong tangan dan kakinya dan disalib oleh Fir'aun:

Mereka berkata, "Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu (Fir'aun) daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya)." (Thaha 20:72-73)

Neraka Saqar

Selanjutnya Allah menyatakan balasan azabNya atas manusia yang bersikap seperti Walid bin Mughirah ini adalah neraka Saqar (26) yang digambarkan sbb:

  • Membakar hangus hingga tidak ada tersisa sedikit pun, termasuk tulang, daging, kulit dlsb (28-29)
  • Dijaga oleh 19 malaikat. Di ayat lain disebutkan mereka ini disebut sebagai Zabaniyah

kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah (Al 'Alaq 96:18)

Neraka Saqar dengan 19 malaikat penjaga ini dikatakan kemudian sebagai ujian bagi orang yang beriman karena sifatnya yang ghaib dimana Allah menguji keimanan mereka atas sesuatu yang hanya Allah SWT yang mengetahui (32).

Sebagai tambahan, di dalam kajian numerologi Al-Qur'an disebutkan angka 19 ini memiliki keunikan sbb:

  • Basmalah memiliki 19 huruf
  • Ayat pertama turun, Al Alaq 96:1-5 memiliki 19 kata
  • Bila setiap huruf Arab diberi nilai secara terurut, maka kata Al-Wahid memiliki huruf dengan total nilai 19
  • Jumlah surah Al-Qur'an 114 adalah kelipatan 19

Allah SWT kemudian bersumpah atas bulan, malam dan siang (32-34) bahwa benar-benar setiap manusia diberikan kebebasan kehendak dalam memilih jalan kebaikan ataupun keburukan.

(Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (37-38)

Neraka Saqar adalah salah satu balasan bagi mereka yang berpaling dari peringatan yang dibawa oleh para Rasul (seperti Walid bin Mughirah) (35); sedangkan surga adalah balasan bagi mereka yang beriman dan beramal saleh, yakni golongan kanan (39-40). Golongan kanan ini dijelaskan di ayat lain, yakni:

Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya. dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung... (Al-Waqiah 56:27-35)

Penyesalan Mereka yang Berpaling dari Peringatan Allah

Di ayat selanjutnya, digambarkan penyesalan mereka yang lalai beriman dan beramal saleh selama di dunia. Hal ini dalam dialog penghuni neraka Saqar dengan para penjaga neraka. Para malaikat penjaga bertanya, "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" (42). Menarik jawaban para penghuni neraka Saqar yang sangat spesifik sebagai berikut:

  • Mereka melalaikan sholat (43)
  • Mereka mengabaikan orang miskin (44)
  • Mereka tidak menjaga perkataannya dan ikut dalam membicarakan hal-hal yang batil (45)
  • Mereka mengingkari kepastian datangnya hari Akhir (46)
  • Mereka menunda-nunda bertaubat hingga kematian menjemput mereka (47)

Mereka ini dikatakan tidak dapat menerima ampunan dan rahmat Allah SWT di hari Kiamat dari doa syafaat para Malaikat, Rasul dan hamba-hamba pilihanNya (48).

Di ayat selanjutnya digambarkan betapa terkejutnya mereka atas peristiwa di hari Kiamat, yang tidak pernah mereka bayangkan akan sedahsyat dan seburuk itu. Sikap mereka diibaratkan seperti keledai yang melarikan diri ketakutan melihat singa (49-51), padahal ketika di dunia mereka dengan tenangnya meremehkan kedatangan hari Akhir dimana setiap perbuatan dan amal mereka diperhitungkan sekecil-kecilnya dan seadil-adilnya.

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Al-Zalzalah 99:7-8)

Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (Al-Mujadalah 58:6)

Narasi penyesalan orang-orang yang berpaling dari peringatan Allah ini kemudian ditutup dengan penegasan bahwasanya Al-Qur'an yang dibawa oleh Rasulullah saw tidak lain adalah peringatan, mengingatkan mereka atas peristiwa hari Akhir ini agar mereka segera bertaubat, bermohon ampunan dan bertakwa kepada Allah SWT (54-56), sebagaimana diterangkan pula di ayat berikut:

Dan sesungguhnya dalam Al Quran ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). (Al-Isra' 17:41)

Dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. (Al-Qalam 68:52)

Dan Al Quran ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya? (Al-Anbiya 21:50)

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi tafsir klik di sini.

Photo credit: Shane Rounce