Tanda-tanda Perpisahan
Setelah dakwah benar-benar menjadi sempurna dan Islam dapat menguasai keadaan, mulai muncul tanda-tanda perpisahan dengan kehidupan dan orang-orang yang hidup, yang bisa ditangkap dari sabda dan tindakan beliau.
Pada bulan Ramadhan tahun 10 H, beliau i’tikaf di masjid selama 20 hari. Padahal sebelumnya beliau tidak i’tikaf kecuali hanya 10 hari saja. Jibril mengetes Al-Qur'an dari beliau hingga dua kali. Pada waktu haji wada’ beliau bersabda,
“Aku tidak tahu pasti, boleh jadi aku tidak akan bertemu kalian lagi setelah tahun ini dengan keadaan seperti ini.”
Pada waktu melempar jumrah Aqabah beliau juga bersabda,
“Pelajarilah manasik kalian dariku, karena boleh jadi aku tidak akan berhaji lagi sesudah tahun ini.”
Turun surat An-Nashr pada pertengahan hari-hari tasyriq. Sebenarnya semua ini bisa dikenali sebagai suatu perpisahan yang diisyaratkan beliau.
Pada awal-awal bulan Shafar tahun 11 H, Rasulullah saw pergi ke Uhud, lalu shalat atas orang-orang yang mati syahid di sana, layaknya orang yang hendak berpisah dengan orang yang masih hidup dan orang yang sudah meninggal dunia. Lalu beliau menuju mimbar dan berpidato.
“Sesungguhnya aku lebih dahulu meninggalkan kalian, aku menjadi saksi atas kalian, dan demi Allah aku benar-benar akan melihat tempat kembaliku saat ini. Aku telah diberi kunci-kunci gudang dunia atau kunci-kunci dunia, dan demi Allah, aku tidak takut kalian akan musyrik sepeninggalku. Tetapi aku takut kalian akan bersaing dalam masalah ini.”[1]
Pada suatu malam pertengahan bulan yang sama beliau pergi ke Baqi’, lalu memintakan ampunan bagi orang yang dikubur di sana. Beliau bersabda:
“Salam sejahtera atas kalian wahai para penghuni kubur. Apa yang kalian hadapi di sana menjadi ringan, seperti apa yang dihadapi manusia. Fitnah datang seperti sepotong malam yang gelap gulita, yang akhir akan menyusul yang awal. Hari Akhirat lebih keras pembalasannya daripada di dunia.”
Lalu beliau mengabarkan kepada orang-orang yang dikubur di sana dengan bersabda:
“Sesungguhnya kami akan bersua dengan kalian.”
Permulaan Sakit
Pada tanggal 29 Shafar tahun 11 H, bertepatan dengan hari Senin, Rasulullah saw menghadiri prosesi jenazah di Baqi'. Sepulang dari Baqi’ dan selagi dalam perjalanan, tiba-tiba beliau merasakan pusing di kepala dan panas tubuhnya langsung melonjak, hingga orang-orang bisa melihat tanda suhu badan beliau yang panas itu lewat urat-urat nadi di kepala beliau.
Beliau sakit selama 13 atau 14 hari, dan tetap shalat bersama orang-orang selama 11 hari dari masa sakitnya itu.
Pekan Terakhir
Sakit Rasulullah saw semakin lama semakin bertambah parah, sampai-sampai beliau bertanya kepada istri beliau, “Di mana giliranku besok? Di mana giliranku besok?”
Mereka paham apa yang beliau maksudkan. Maka mereka memberi kebebasan kepada beliau untuk memilih. Akhirnya beliau memutuskan untuk berpindah ke rumah Aisyah. Beliau berjalan dengan dipapah Al-Fadhl bin Abbas dan Ali bin Abu Thalib hingga tiba di rumah Aisyah. Beliau berada di sana pada pekan terakhir dari kehidupan beliau.
Sementara itu, Aisyah terus-menerus membacakan mu’awwidzat dan doa-doa yang dihafalkan dari Rasulullah saw sambil meniup ke tubuh beliau dan mengusap-usap tangan beliau, mengharapkan barakah.
Lima Hari Sebelum Wafat
Pada hari Rabu, tepatnya lima hari sebelum Rasulullah saw wafat, suhu badan beliau semakin tinggi, sehingga beliau semakin demam dan menggigil. Beliau bersabda, “Guyurkan air dari manapun ke tubuhku, agar aku dapat menemui orang-orang dan memberikan nasihat kepada mereka.”
Mereka mendudukkan beliau di atas bejana cucian lalu mengguyurkan air ke tubuh beliau, hingga beliau bersabda, “Cukup, cukup!”
Setelah merasa agak ringan, beliau masuk masjid dengan kepala yang diikat, hingga duduk di atas mimbar, lalu berpidato di hadapan orang-orang yang duduk di hadapan beliau:
“Kutukan Allah dijatuhkan kepada orang-orang Yahudi dan Nashrani, karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka menjadi masjid.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Allah memerangi orang-orang Yahudi dan Nashrani, karena menjadikan kuburan para nabi mereka menjadi masjid. Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.”[2]
Kemudian beliau menawarkan diri untuk qishash, seraya bersabda, “Barangsiapa punggungnya pernah kupukul, maka inilah punggungku, silahkan membalasnya. Siapa yang merasa kehormatannya pernah kulecehkan maka inilah kehormatanku, silahkan membalasnya.”
Kemudian beliau turun dari mimbar untuk melaksanakan shalat zhuhur. Selepas shalat beliau kembali lagi ke mimbar dan duduk di atasnya. Beliau mengulang lagi sabdanya seperti di atas dan juga menyampaikan yang lain. Pada saat itu ada orang yang berkata, “Sesungguhnya engkau mempunyai tanggungan tiga dirham kepadaku.”
Maka beliau bersabda, “Berikan kepadanya wahai Fadhl.”
Kemudian beliau menyampaikan nasihat berkaitan dengan orang-orang Anshar:
“Aku wasiatkan kepada kalian tentang orang-orang Anshar. Mereka adalah familiku dan aibku. Mereka telah melaksanakan kewajiban mereka dan apa yang menyisa adalah milik mereka. Terimalah orang yang baik di antara mereka.”
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa beliau bersabda:
“Sesungguhnya manusia akan semakin bertambah banyak sedangkan orang-orang Anshar semakin sedikit, hingga akhirnya mereka seperti garam dalam makanan. Barangsiapa di antara kalian ada yang menangani suatu urusan yang bisa membahayakan dan bermanfaat bagi seseorang, maka hendaklah dia mau menerima orang yang baik di antara mereka dan memaafkan orang yang buruk di antara mereka.”[3]
Beliau melanjutkan:
“Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia menurut kehendaknya ataukah apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu memilih apa yang ada di sisi-Nya.”
Abu Said Al-Khudri menuturkan, “Lalu Abu Bakar menangis, sembari berkata, 'Demi ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu.'”
Karena kami merasa heran atas ulah Abu Bakar ini, maka orang-orang berkata, “Lihatlah orang tua ini. Rasulullah saw mengabarkan tentang seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia menurut kehendaknya ataukah apa yang ada di sisi-Nya, lalu dia berkata, 'Demi ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu.'”
Yang dimaksudkan hamba di sini tidak lain adalah Rasulullah saw sendiri, sementara orang yang paling mengetahui di antara kami adalah Abu Bakar.[4]
Kemudian beliau melanjutkan:
“Sesungguhnya orang yang paling banyak memberikan perlindungan kepadaku dengan pergaulan dan hartanya adalah Abu Bakar. Andaikan aku boleh mengambil seorang kekasih selain Rabb-ku, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Tetapi ini adalah ukhuwah islamiyah dan kasih sayang. Semua pintu yang menuju masjid harus ditutup kecuali pintunya Abu Bakar.”[5]
Empat Hari Sebelum Wafat
Pada hari Kamis empat hari sebelum wafat, sakit beliau tidak menyusut. Beliau bersabda:
“Kemarilah kalian. Aku akan menuliskan sebuah tulisan, yang kalian tidak akan tersesat sesudahnya.”
Saat itu di rumah ada beberapa orang, di antara mereka adalah Umar bin Al-Khaththab, yang berkata, “Beliau terpengaruh oleh sakitnya. Toh di sisi kalian ada Al-Qur'an. Cukuplah bagi kalian Kitab Allah.”
Mereka yang ada di dalam rumah pun saling berselisih dan berdebat. Di antara mereka ada yang berkata, “Mendekatlah kalian agar Rasulullah saw dapat menulis bagi kalian.” Namun di antara mereka ada yang setuju dengan perkataan Umar. Karena mereka saling berdebat dan gaduh, beliau bersabda, “Menyingkirlah dari sini!”[6]
Pada hari itu beliau menyampaikan tiga wasiat. Pertama, wasiat untuk mengeluarkan orang-orang Yahudi dan Nashrani serta orang-orang musyrik dari Jazirah Arab. Kedua, wasiat tentang pengiriman para utusan seperti yang pernah beliau lakukan. Sedangkan yang ketiga, rawi hadits ini lupa. Boleh jadi yang ketiga ini adalah wasiat untuk berpegang teguh kepada Al-Qur' an dan Sunnah, atau perintah untuk melanjutkan pengiriman pasukan Usamah, atau wasiat untuk memperhatikan masalah shalat dan hamba-hamba sahaya yang dimiliki.
Sekalipun sakit Rasulullah saw cukup parah, tetapi beliau tetap mengimami shalat lima waktu bersama orang-orang hingga hari itu, atau tepatnya hari Kamis empat hari sebelum beliau wafat. Pada waktu shalat maghrib hari itu, beliau membaca surat Al-Mursalat.
Menjelang shalat isya, sakit beliau semakin bertambah parah, sampai-sampai beliau tidak sanggup lagi pergi ke masjid.
Aisyah menuturkan, beliau bertanya, “Apakah orang-orang sudah shalat?”
Kami menjawab, “Belum, wahai Rasulullah. Mereka sedang menunggu engkau.”
Beliau bersabda, “Letakkan air di bejana tempat cucian bagiku.”
Kami laksanakan perintah beliau. Setelah mandi, beliau akan bangkit berdiri, namun tidak sanggup dan pingsan. Setelah siuman beliau bertanya, “Apakah orang-orang sudah shalat?”
Ketika hendak bangkit untuk kedua kalinya, lagi-lagi beliau pingsan, hingga terulang tiga kali dan tetap tak sanggup. Akhirnya beliau mengirim utusan untuk menemui Abu Bakar, agar dia mengimami orang-orang. Maka sejak hari itu Abu Bakar mengimami orang-orang, tepatnya sebanyak 17 shalat selagi beliau masih hidup.
Tiga atau empat kali Aisyah menyarankan agar Nabi saw tidak hanya menunjuk Abu Bakar sebagai imam, supaya orang-orang tidak merasa bosan kepadanya. Tetapi beliau menolaknya, seraya bersabda, “Kalian sama dengan saudara-saudara Yusuf. Suruh Abu Bakar agar dia menjadi imam bagi orang-orang.”
Dua Hari atau Sehari Sebelum Wafat
Pada hari Sabtu atau Ahad, Nabi saw merasakan badannya agak ringan. Maka dengan dipapah dua orang laki-laki beliau keluar rumah untuk melaksanakan shalat zhuhur. Sementara pada saat yang sama Abu Bakar sedang mengimami orang-orang. Saat melihat kedatangan beliau. Abu Bakar beranjak untuk mundur ke belakang. Namun beliau memberi isyarat kepada Abu Bakar agar dia tidak usah mundur.
Beliau bersabda, “Dudukkan aku di samping Abu Bakar.” Maka keduanya mendudukkan beliau di samping Abu Bakar, lalu Abu Bakar shalat mengikuti shalat beliau dan mengeraskan bacaan takbir agar didengar orang-orang.
Sehari Sebelum Wafat
Sehari sebelum wafat atau pada hari Ahad, Nabi saw memerdekakan para pembantu laki-lakinya, menyedekahkan tujuh dinar harta beliau yang masih menyisa dan memberikan senjata milik beliau kepada orang-orang Muslim. Pada malam sebelumnya Aisyah meminjam minyak lampu pembantu perempuannya. Sementara baju besi beliau digadaikan kepada seorang Yahudi seharga 30 sha’ gandum.
Hari Terakhir dari Kehidupan Rasulullah
Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa tatkala orang-orang Muslim sedang melaksanakan shalat subuh pada hari Senin, sementara Abu Bakar menjadi imam, Rasulullah saw tidak menampakkan diri kepada mereka. Beliau hanya menyibak tabir kamar Aisyah dan memandangi mereka yang sedang berbaris dalam shaf-shaf shalat. Kemudian beliau tersenyum. Abu Bakar mundur ke belakang hendak berdiri sejajar dengan shaf, karena dia mengira Rasulullah saw akan keluar untuk shalat dan menjadi imam. Anas menuturkan, orang-orang Muslim bermaksud hendak menghentikan shalat karena merasa gembira dengan keadaan Rasulullah. Namun beliau memberi isyarat dengan tangan agar mereka menyelesaikan shalat. Kemudian beliau masuk ke bilik dan menurunkan tabir.
Setelah itu Rasulullah saw tidak mendapatkan waktu shalat berikutnya. Waktu dhuha semakin beranjak. Nabi saw memanggil putrinya, Fathimah. Lalu beliau membisikan sesuatu kepadanya hingga dia menangis. Kemudian beliau mendoakan Fathimah. Setelah itu beliau membisikan sesuatu kepadanya hingga dia tersenyum.
Di kemudian hari kami menanyakan kejadian ini kepada Fathimah. Dia menjawab, “Nabi saw membisiki aku bahwa beliau akan meninggal dunia, lalu aku pun menangis. Kemudian beliau membisiki aku lagi, berisi kabar gembira bahwa akulah anggota keluarga beliau yang pertama kali akan menyusul beliau. Maka aku pun tersenyum.”
Nabi saw juga mengabarkan kepada Fathimah bahwa dia adalah pemimpin wanita semesta alam.
Fathimah bisa melihat penderitaan yang amat berat pada diri Rasulullah saw. Maka dia berkata, “Alangkah menderitanya engkau wahai Ayah!”
Beliau menjawab, “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini.” Kemudian beliau memanggil Hasan dan Husain lalu memeluk keduanya dan memberikan nasihat yang baik-baik. Beliau juga memanggil para istri beliau, memberi nasihat dan peringatan kepada mereka.
Rasa sakit beliau semakin bertambah berat. Ditambah lagi pengaruh racun yang disusupkan dalam daging oleh wanita Yahudi yang beliau makan sewaktu di Khaibar, hingga beliau bersabda, “Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang sempat kucicipi di Khaibar. Inilah bagiku untuk merasakan bagaimana terputusnya nadiku karena racun tersebut.”
Beliau juga memberikan nasihat kepada orang-orang:
“Shalat, shalat dan budak-budak yang kalian miliki.”
Beliau menyampaikan wasiat ini hingga beberapa kali, maksudnya perintah untuk memperhatikan dua hal ini.
Detik-detik Terakhir
Tibalah detik-detik terakhir dari hidup beliau. Aisyah menarik tubuh beliau ke pangkuannya. Tentang hal ini dia pernah berkata, “Sesungguhnya di antara nikmat Allah yang dilimpahkan kepadaku, bahwa Rasulullah saw meninggal dunia di rumahku, pada hari giliranku, berada dalam rengkuhan dadaku, bahwa Allah menyatukan antara ludahku dan ludah beliau saat wafat.”
Abdurrahman bin Abu Bakar masuk sambil memegang siwak. Saat itu aku merengkuh tubuh beliau. Kulihat beliau melirik ke siwak di tangan Abdurrahman. Karena aku tahu beliau amat suka kepada siwak, maka aku bertanya, “Apakah aku boleh mengambil siwak itu untuk engkau?”
Beliau mengiyakan dengan isyarat kepala. Maka aku menyerahkannya kepada beliau dan menggosokannya ke mulut beliau. Rupanya gosokanku terlalu keras bagi beliau. Aku bertanya, “Apakah aku harus memelankannya?” Beliau mengiyakan dengan isyarat kepala. Maka aku menggosok dengan pelan-pelan sekali. Di dekat tangan beliau saat itu ada bejana berisi air. Beliau mencelupkan kedua tangan ke dalam air lalu mengusapkannya ke wajah, sambil bersabda:
“Tiada Ilah selain Allah. Sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya.”
Seusai bersiwak beliau mengangkat tangan atau jari-jari, mengarahkan pandangan ke arah langit-langit rumah dan kedua bibir beliau bergerak-gerak. Aisyah masih sempat mendengar sabda beliau pada saat-saat itu:
“Bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka dari para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Ya Allah, ampunilah dosaku dan rahmatilah aku. Pertemukanlah aku dengan Kekasih Yang Mahatinggi ya Allah, Kekasih Yang Mahatinggi.”[7]
Kalimat yang terakhir ini diulang sampai tiga kali yang disusul dengan tangan beliau yang melemah.
Inna Lillahi wa inna ilaihi raji ’un.
Beliau telah berpulang Kepada kekasih Yang Mahatinggi.
Hal ini terjadi selagi waktu dhuha sudah terasa panas, pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal 11 H, dalam usia beliau 63 tahun lebih 4 hari.
Para Sahabat Dirundung Kesedihan
Kabar kesedihan langsung menyebar. Seluruh pelosok Madinah seakan berubah menjadi muram. Anas menuturkan, “Aku tidak pernah melihat suatu hari yang lebih baik selain dari hari saat Rasulullah saw masuk ke tempat kami; dan tidak kulihat hari yang lebih buruk dan lebih muram selain dari saat Rasulullah saw meninggal dunia.”
Setelah beliau meninggal, Fathimah berkata, “Wahai ayah, Rabb telah memenuhi doamu. Wahai ayah, surga firdaus tempat kembalimu. Wahai ayah, kepada Jibril kami mengabarkan wafatmu.”[8]
Sikap Umar bin Al-Khaththab
Setelah mendengar kabar kematian beliau, Umar hanya berdiri mematung. Seperti tidak sadar dia berkata, “Sesungguhnya beberapa orang munafik beranggapan bahwa Rasulullah saw akan meninggal dunia. Sesungguhnya beliau tidak meninggal dunia, tetapi pergi ke hadapan Rabbnya seperti yang dilakukan Musa bin Imran yang pergi dari kaumnya selama 40 hari, lalu kembali lagi kepada mereka setelah beliau dianggap meninggal dunia. Demi Allah, Rasulullah saw benar-benar akan kembali. Maka tangan dan kaki orang-orang yang beranggapan bahwa beliau meninggal dunia, hendaknya dipotong.”
Sikap Abu Bakar
Dari tempat tinggalnya di dataran tinggi Madinah. Abu Bakar memacu kuda, lalu turun dan masuk masjid tanpa berbicara dengan siapa pun. Dia masuk dan menemui Aisyah lalu mendekati jasad Rasulullah saw yang diselubungi kain berwarna hitam. Dia menyibak kain itu lalu menutupnya kembali, memeluk jasad beliau sambil menangis. Kemudian dia berkata, “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu. Allah tidak akan menghimpun dua kematian pada diri engkau. Kalau memang kematian ini sudah ditetapkan atas engkau, berarti memang engkau sudah meninggal dunia.”
Kemudian Abu Bakar keluar rumah, yang saat itu Umar sedang berbicara di hadapan orang-orang. Dia berkata, “Duduklah wahai Umar!”
Umar tidak mau duduk. Orang-orang beralih ke Abu Bakar dan meningalkan Umar. Abu Bakar berkata, “Barangsiapa di antara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Tetapi barangsiapa di antara kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu Mahahidup dan tidak meninggal. Allah berfirman:
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali Imran 3:144)
Ibnu Abbas menuturkan, “Demi Allah, seakan-akan mereka tidak tahu bahwa Allah telah menurunkan ayat ini hingga saat Abu Bakar membacakannya. Maka semua orang mempelajari ayat ini. Tak seorang pun di antara mereka yang mendengarnya melainkan membacanya.”
Ibnul Musayyab menuturkan, bahwa Umar berkata, “Demi Allah setelah mendengar Abu Bakar membacakan ayat tersebut, aku pun menjadi linglung, hingga aku tak kuasa mengangkat kedua kakiku, hingga aku terduduk ke tanah saat mendengarnya. Kini aku sudah tahu bahwa Nabi saw memang sudah meninggal dunia.”
Menangani dan Mengubur Jasad Rasulullah
Sebelum mengurus jasad Rasulullah saw, terjadi silang pendapat tentang pengganti beliau. Terjadi dialog dan debat serta sanggahan dari pihak Muhajirin dan Anshar di Shaqifah Bani Sa’idah. Namun akhirnya mereka sepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah. Hal ini terjadi hingga masuk waktu malam dari hari Senin. Orang-orang sibuk membuat persiapan untuk mengurus jasad beliau hingga akhir malam mendekati subuh atau malam Selasa. Sementara jasad beliau yang mulia masih tetap membujur di atas tempat tidur dengan diselubungi kain hitam. Pintu rumah ditutup dan hanya boleh dimasuki keluarga beliau.
Pada hari Selasa para sanak keluarga memandikan jasad beliau tanpa melepaskan kain yang menyelubungi. Adapun yang memandikan adalah Al-Abbas, Ali, Al-Fadhl, Qatsam (keduanya anak Al-Abbas), Syarqan (pembantu Rasulullah), Usamah bin Zaid, dan Aus bin Khaili. Al-Abbas, Al-Fadhl, dan Qatsam bertugas membalik-balikan jasad, Syarqan mengguyurkan air, Ali membersihkannya dan Aus mendekap jasad beliau di dadanya.
Kemudian mereka mengkafani jasad beliau dengan tiga lembar kain putih dari bahan katun, tanpa menyertakan pakaian ataupun penutup kepala.
Kemudian mereka saling berbeda pendapat, di mana beliau akan dikubur.
Maka Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang Nabi meninggal dunia melainkan dia dikuburkan di tempat dia meninggal dunia.”
Abu Thalhah menyingkirkan tempat tidur di mana beliau meninggal dunia, lalu menggali liang lahat persis di bawah tempat tidur beliau.
Orang-orang masuk ke dalam bilik secara bergiliran, sepuluh orang-sepuluh orang untuk menshalati jenazah Rasulullah saw, tanpa seorang pun yang menjadi imam. Giliran pertama kali yang menshalati adalah keluarga beliau, kemudian disusul orang-orang Muhajirin, lalu Anshar. Setelah kaum laki-laki, giliran kaum wanita yang menshalati, kemudian disusul anak-anak.
Semua ini dilaksanakan sehari penuh pada hari Selasa, hingga menginjak malam Rabu. Aisyah berkata, “Kami tidak mengetahui penguburan Rasulullah saw hingga kami mendengar suara sekop di tengah malam Rabu.”[9]
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, teramat besar belas kasih dan penyayangnya terhadap orang-orang yang beriman. (At Taubah 9:128)
Allahumma shalli 'alaa sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina Muhammad.
(Dikutip secara bebas dari "Sirah Nabawiyah" oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfur. Al-Kautsar. 1997)
Photo credit: Dhuhrur Rizky17
Shahih Al-Bukhari, 2/585. ↩︎
Muwaththa’, Imam Malik, hlm. 65. ↩︎
Ibid, 1/546. ↩︎
Muttafaq 'alaih. Lihat Masykatul Mashabih, 2/546. ↩︎
Muttafaq 'alaih, Shahih Al-Bukhari, 1/22, 429, 449; 2/628; Masykatul Mashabih, 2/548. ↩︎
Diriwayatkan Al-Bukhari, dari Ummul Fadhl, bab sakitnya nabi, 2/637. ↩︎
Sabda Nabi saw, "...bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat" ini sesuai dengan doa utama pada surah Al-Fatihah 1:6-7, "Tunjukilah kami jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat" Adapun orang-orang yang Engkau beri nikmat yang disebutkan pada saat Nabi saw sakaratul maut - yakni para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin - adalah mereka yang juga dijelaskan di dalam dua ayat Al-Qur'an berikut: Pertama, "Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis." (Maryam 19:58). Kedua, "Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (An-Nisa' 4:69) ↩︎
Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 2/655. ↩︎
Rincian saat kepulangan Rasulullah ke pangkuan Kekasih yang Mahatinggi ini silahkan lihat di Shahih Al-Bukhari, Bab Maradhun Nabi saw ↩︎