Setan dan Permusuhannya

Setan dan Permusuhannya

Hal pertama yang menonjol dari uraian ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi saw. menyangkut setan adalah penjelasan tentang sifat-sifat buruk yang disandangnya serta permusuhannya terhadap manusia.

Delapan puluh delapan kali, kata syaithan/setan, baik dalam bentuk tunggal maupun jamak (syayathin), ditemukan dalam al-Qur’an. Sepanjang itu, Allah menyebutkan banyak sifat-sifatnya. Misalnya: menakut-nakuti manusia dan memerintahkan kepada kekejian (al-Baqarah 2:268); merasuk ke dalam diri manusia dan menjadikannya tak tahu arah (al-Baqarah 2:257); terkutuk (Ali Imran 3:36); menggelincirkan manusia melalui amal perbuatan mereka sendiri (Ali Imran 3:155); menakut-nakuti pengikut-pengikutnya (Ali Imran 3:175); menjadi sahabat buruk dan pendamping (an-Nisa 4:38 dan az-Zukhruf 43:36); menyesatkan manusia (an-Nisa 4:60); mengakibatkan kerugian yang nyata (an-Nisa 4:119); hanya menjanjikan tipuan (an-Nisa 4:120); menciptakan permusuhan dan kedengkian (al-Ma’idah 5:91); menghiasi amal buruk manusia (al-An'am 6:43); menjadikan manusia lupa (al-An'am 6:68); menipu manusia (al-Araf 7:27); menuntun manusia agar semakin terpuruk (al-A'raf 7:175); merusak hubungan antar-saudara (Yusuf 12:100); mengingkari janji (Ibrahim 14:22); sangat kafir dan durhaka kepada Allah (al-Isra 17:27 dan Maryam 19:44); mencampakkan pesimisme (al-Hajj 22:52); tidak akan menolong manusia (al-Furqan 25:29); mengajak ke neraka (Luqman 31:21); menimpakan kepayahan dan siksaan (Shad 38:41); memanjangkan angan-angan (Muhammad 47:25); menanamkan rasa dukacita (al-Mujadalah 58:10); durhaka (an-Nisa 4:117); mengajar sihir (al-Baqarah 2:102); menghasut untuk berbuat maksiat (Maryam 19:83). Tidak kurang dari sepuluh kali, Allah, dalam al-Qur’an, mengingatkan bahwa setan adalah musuh manusia.

Sejak masih di surga, sebelum Adam dan pasangannya dirayu oleh iblis, Allah SWT telah memperingatkan mereka:

Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka (bersusah payah) (Thaha 20:117).

Begitu mereka tergoda, sebelum diperintahkan turun ke bumi, Allah mengingatkan lagi permusuhan setan kepada mereka:

Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan (mencicipi) buah pohon itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian, Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (al-A‘raf 7:22).

Selanjutnya, ketika mereka terusir dari surga dan diperintahkan turun ke bumi, sekali lagi Allah mengingatkan:

Kami berfirman: "Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan" (al-Baqarah 2:36).

Anak cucu Adam pun diperingatkan Allah tentang rayuan dan godaan setan serta permusuhannya terhadap manusia:

Hai anak-anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya, ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya, Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman (al-Araf 7:27).

Selanjutnya, Nabi Yusuf — sebagaimana diabadikan ucapannya oleh al-Qur’an — mengatakan bahwa:

Sesungguhnya, setan terhadap manusia adalah musuh yang nyata (Yusuf 12:5).

Maka, kepada Nabi Muhammad saw., Allah berpesan agar menyampaikan bahwa permusuhan itu bukan bersifat sementara, tetapi permusuhan abadi. Keabadian itu antara lain dipahami dari kata kana dalam firman-Nya pada surah al-Isra 17:53:

Sesungguhnya, setan itu adalah musuh langgeng (terus-menerus) yang nyata bagi manusia.”

Karena kelanggengan permusuhan itulah, Allah pun memerintahkan manusia untuk menjadikannya musuh yang langgeng pula:

Sesungguhnya, setan adalah musuh bagimu maka jadikanlah ia musuh (mu) karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (Fathir 35:6).

Terdapat tiga kelompok ayat dalam al-Qur’an yang menunjukkan betapa permusuhan yang diarahkan oleh iblis kepada manusia adalah permusuhan yang langgeng sehingga sikap yang diajarkan Allah kepada manusia dalam menghadapinya berbeda dengan sikap yang diajarkan-Nya menghadapi manusia yang memusuhi seseorang.

Pertama: Dalam surah al-A'raf 7:199-200:

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Di sini antara lain ditemukan perintah untuk memberi “maaf” dan tidak melayani gangguan manusia yang berbuat jahil. Adapun gangguan setan, perintah atau anjuran memberi maaf atau berpaling tidak ditemukan. Yang diperintahkan pada ayat di atas tidak lain kecuali berlindung kepada Allah dari segala macam gangguannya.

Kedua: Dalam surah al-Mu’minun 23:96-97:

Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah, "Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan."

Ayat ini bukan saja memerintahkan untuk memberi maaf atau berpaling, tidak memedulikan gangguan-gangguan manusia, tetapi lebih dari itu, ayat di atas menganjurkan agar menampik kejahatan atau kesalahan manusia dengan berbuat baik kepada yang bersalah. Namun, terasa bahwa itu belum sampai pada tingkat kebersihan jiwa sehingga terhapus atau hilang bekas-bekas luka hati mereka. Kesan ini diperoleh dari penutup ayat tersebut: Kami (Allah) lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Kalimat ini mengandung isyarat bahwa apa yang mereka sifatkan itu diketahui Allah dan pasti Allah akan membalasnya, atau memberi ganjaran kepada setiap pemaaf, atau juga menampik kejahatan dengan kebaikan, walau yang luka hatinya belum sepenuhnya sembuh. Adapun terhadap setan, yang dianjurkan tetap sama dengan yang dianjurkan pada ayat-ayat kelompok pertama, yakni memohon perlindungan Allah.

Ketiga: Dalam surah Fushshilat 41:34-36:

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang memunyai keberuntungan yang besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kalau diperhatikan kelompok ayat di atas, dijelaskan bahwa perintah Allah menampik kejahatan atau keburukan manusia, bukan saja dengan memaafkan, melainkan juga dengan bersikap sebaik mungkin terhadap yang memusuhi sehingga tidak tersisa sedikit pun marah atau luka di dalam hati. Itu sebabnya sehingga dia yang tadinya musuh beralih menjadi teman yang sangat setia. Ini memang sulit karena ditegaskannya bahwa itu tidak dianugerahkan, kecuali kepada orang-orang yang sabar dan mereka yang memperolehnya meraih keberuntungan yang besar.

Bagaimana dengan tuntunan menghadapi setan yang diajarkan kelompok ketiga ayat ini? Intinya tidak berbeda dengan tuntunan-tuntunan sebelumnya, yakni memohon perlindungan Allah. Mengapa demikian? Ini karena kejahatan dan permusuhannya terhadap manusia telah sedemikian mendarah daging dan menyatu dalam diri setan sehingga tidak dapat dielakkan dengan cara apa pun, kecuali dengan berlindung kepada Allah SWT

Agar manusia terhindar dari tipu daya setan, Allah SWT dan Rasul-Nya membekali manusia dengan petunjuk-petunjuk menyangkut kekuatan setan dan kelemahannya, serta cara-cara menghindar dari rayuan juga tipu dayanya.

Sebelum menguraikan kekuatan dan kelemahan tersebut, ada baiknya penulis sadurkan ilustrasi Ibn al-Jauzi yang sangat indah yang menggambarkan bagaimana pertarungan antara manusia dan setan:

Ketahuilah bahwa hati bagaikan benteng. Ada pagar-pagar yang mengelilingi benteng itu, dan di setiap pagar ada pintu-pintu dan juga bagian-bagian pagar yang berlubang. Penghuni benteng adalah akal. Para malaikat berkunjung ke benteng itu. Di samping benteng, ada bungalo tempat nafsu bersemayam. Setan dengan mudah, tanpa halangan, berkunjung ke tempat itu. Terjadi peperangan antara penghuni benteng dan penghuni bungalo. Setan menunggu kesempatan lengahnya penjaga agar dapat menyerang masuk melalui bagian-bagian pagar yang berlubang. Penjaga harus benar-benar awas, tidak boleh lengah, karena musuh tidak lengah. Seandainya iblis lengah, kita dapat beristirahat. Benteng itu dapat menjadi terang benderang dengan zikir. Di dalamnya, terdapat cermin yang dapat memonitor segala yang lalu-lalang. Langkah pertama setan adalah memperbanyak asap dari bungalo menuju benteng itu agar benteng dipenuhi kegelapan sehingga monitor tidak dapat berfungsi dengan baik. Ketenangan bertafakkur menciptakan angin yang mengusik asap hitam, dan ketekunan berzikir memperjernih cermin. Musuh terus berupaya; sesekali atau kerap kali dia berhasil masuk ke benteng dan melumpuhkan penjaga serta memorak-porandakan isi benteng. Angin yang menjernihkan ruangan boleh jadi hanya sepoi-sepoi, tak berdaya menghilangkan asap, sehingga seluruh benteng menjadi gelap dan cermin menjadi karatan. Penjaga pun boleh jadi ditawan karena kelengahannya, bahkan tidak mustahil si penjaga diperalat oleh musuh untuk mencapai tujuannya. Demikian ilustrasi ulama yang banyak mengungkap rahasia tipu daya setan.

(Dikutip dari "Yang Halus dan Tak Terlihat: Setan dalam Al-Qur'an" oleh M. Quraish Shihab. Penerbit Lentera Hati. 2010)

Photo credit: Umesh R. Desai